Gerakan Pemuda Blog

Just another WordPress.com weblog

Arsip untuk Mei 25th, 2009

Perjuangan Nelayan Pantai Samas Mengkonservasi Penyu

dengan 5 komentar

Samas merupakan sebuah pantai yang terletak di kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Pantai ini memiliki pasir berwarna hitam karena masih menjadi bagian dari pantai parangtritis. Pantai Samas berjarak kurang lebih 30 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Pemandangan dari pantai samas sendiri kurang menarik — yakni pemandangan pantai yang sangat datar dan pantai yang sempit dan curam. Pantai Samas sendiri merupakan pantai penghasil ikan mengingat ada sebuah TPI, Tempat Pelelangan Ikan. Tetapi daya tarik terbesar dari pantai samas bukan pemandangan pantainya atau pasar ikannya, melainkan tempat pendaratan dan bertelurnya penyu. Penyu yang bertelur di Samas adalah penyu hijau, penyu sisik, dan penyu belimbing — dimana kesemuanya merupakan binatang yang terancam punah.

Tetapi ada fakta yang mencengangkan yaitu konservasi penyu belum pernah ada di pantai Samas– oleh pemerintah maupun perorangan — mengingat intensnya kegiatan bertelurnya penyu di pantai samas sepanjang musim januari hingga april, sangat disayangkan jika tidak ada pihak yang melakukan konservasi.

Tahun 2000 merupakan sebuah awal baru bagi keberadaan penyu di pantai Samas. Seorang nelayan mencoba menyelamatkan penyu, dengan cara konservasi memindahkan telur penyu yang berada pada jalur ombak. Pak mujito, pria berusia 49, pada tahun tersebut dengan swadaya sendiri mencoba melakukan konservasi penyu – penyu yang berlabuh di Samas. Pada kami Pak Mujito menuturkan bahwa awalnya dia juga memburu penyu untuk dijadikan umpan memancing hiu. ” penyu itu di cincang dijadikan umpan, hiu juga dapet, cepet lagi ! ” Pak Mujito menuturkan dengan gamblang. Tetapi lama kelamaan setelah mengetahui bahwa penyu binatang langka dan rasa penasarannya yang besar akan penyu. Pada tahun 2000 Pak Mujito mencoba melakukan konservasi pada penyu– baik penyu sisik, penyu belimbing, dan penyu hijau. Pada awalnya beliau menuturkan,” dulu ngak ada modalnya, jadi saya mikir alternatifnya, kebetulan ada yang lagi bikin sumur ya sudah bis beton untuk lubang sumur saya curi buat tempat penetasan telur. “Ya memang salah tapikan ini juga kepentingan bersama”, tegas Pak Mujito. Mulai dari saat itu Pak Mujito mulai melakukan konservasi secara bertahap, mulai dengan tempat penetasan, lalu membangun kolam pembesaran, dan pada akhirnya kini ada kolam perawatan. Tetapi yang terpenting adalah Pak Mujito mulai mampu membangun kesadaran masyarakat sekitarnya agar tidak memburu penyu. Karena prestasi itulah juga Pak Mujito mendapakan banyak piagam, medali, dan juga penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Penghargaan – penghargaan yang terus di dapatkan Pak Mujito menunjukan betapa besar jasa yang telah di perbuatnya. Namun masalah timbul ketika penghargaan itu hanya sebatas pada piagam maupun medali. Padahal yang sangat di butuhkan untuk melakukan konservasi adalah tunjangan dana yang angkanya tidak lah besar dibanding dengan dampak yang diberikan. Pada saat kami  mengunjungi tempat pemeliharaan tukik ( anak penyu ), kami melihat ada 3 ekor tukik. Sayang sekali hanya 1 ekor saja yang masih hidup– itupun dalam kondisi yang sangat lemah. Menurut Pak Mujito, ” ya bagaimana mas, mbak, mestinya air kolam harus di ganti setiap hari tetapi selang untuk mengalirkan air rusak. Harganya juga mahal sekali. Gini saya inikan swadaya jadi untuk membeli selang sepanjang itu juga berat”. Sungguh ucapan yang sangat menyayat hati. Banyaknya penghargaan, piagam dan medali tetap saja tidak menggugah pemerintah untuk turut membantu dalam melakukan konservasi. Padahal jika pemerintah ikut serta bisa dibayangkan pasti tingkat konservasi yang di sumbangkan Indonesia pasti akan lebih tinggi dan tentu hal itu juga akan menaikan citra negara kita. Bukan sebatas itu jika digarap dengan baik tentu saja akan menjadi tujuan wisata dan tempat penelitian menggingat ada 3 jenis penyu yang bertelur di Samas. Tak hanya itu devisa pun juga akan didapatkan dari kunjungan wisata.

Tetapi itulah Pak Mujito yang terus berusaha semampunya demi membuat perubahan besar dengan keterbatasan dan kekurangan tetap tegar melakukan konservasi hingga sekarang, sebuah sifat yang sangat patriotis, untuk dunia beliau berjuang dari daerah terpencil tetapi kelak dampaknya akan menggubah dunia. Sifat yang tidak dimiliki generasi muda sekarang ini.

clip_image002

Gambar salah satu penyu yang dirawat Pak Mujito

karena terkena kail pancing nelayan

clip_image003

Gambar salah satu penyu hasil sitaan dari PPS

clip_image004

Pak Mujito  bersama penyu  yang sedang dalam perawatan

clip_image002

Gambar salah satu tukik yang dalam kondisi lemah

clip_image003

Pak Mujito menunjukan pigam yang telah diperolehnya

Ditulis oleh camo1620

Mei 25, 2009 pada 6:28 pm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.