Archive for the ‘Opini’ Category
Wahai Odelia, Berhentilah Menangis
sebuah respons untuk kasus Odelia Pinot by camo1620
Tentunya kita sudah mendengar berita mengenai Odelia Pinot baik dari TV maupun dari blog ini. Buat yg blom tau, untuk lebih lengkapnya silakan klik di sini. Singkatnya, Odelia Pinot, seorang model/artis Indonesia menikah dengan seorang pangeran dari negeri Jiran. Tak pentinglah dalam konteks artikel ini siapa dan dari kerajaan mana pangeran ini, tapi yang penting adalah Odelia disiksa selama masa pernikahannya dan berdasarkan cerita Odelia, saya (dan banyak orang lain juga) yang mendapat gambaran sang pangeran sebagai seorang psikopat. Hal terakhir yg saya tulis juga sebenernya tidak penting untuk artikel ini karena di artikel ini saya ingin menulis respons bukan secara langsung mengenai ke- psikopat – an sang pangeran ato penyiksaan yang dilakukan sang pangeran terhadap sang putri…eh, maksud saya sang Odelia(??). Yang saya ingin respons adalah attitude Odelia yang seolah menyalahkan semuanya ke pihak lain. Odelia menyalahkan sang pangeran karena telah menyiksanya. Odelia menyalahkan kerabat kerajaan menutup mata walau mereka tau apa yang sebenernya terjadi. Odelia menyalahkan Kedubes RI karena tidak membantu dirinya ketika ia meminta tolong kepada mereka. Semua itu ada benarnya. Namun, yang gw tidak suka dari karakter Odelia adalah dia tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri. Padahal, kesalahan terbesar ada pada Odelia!
Dari kecil kita sudah diajarkan, walau enggak semua orang benar2 belajar akan hal ini, bahwa kita harus bertanggung – jawab akan pilihan atau tindakan kita. Ketika seseorang itu tidak belajar, sudah sepantasnya dia tidak bisa mengerjakan ulangan keesokan harinya. Ketika seseorang lupa membantu temannya pada saat kesusahan, sudah sepantasnya orang itu tidak dibantu ketika ia sedang kesusahan. Pada kenyataannya untuk 2 kasus di atas, ketika seorang murid tidak belajar untuk ulangan keesokan harinya, sang murid masih saja mengeluh bahwa ia tidak dapat mengerjakan ulangan, atau ia mengeluh teman sebangkunya menulis jawabannya terlalu kecil sehingga ia susah membacanya(ia pengen nyontek). Ketika seseorang lupa membantu yang lain, ia masih saja mengeluh bahwa tak ada yang mau menolong dia ketika ia sedang kesusahan, ia bilang tak ada yang solider dengan dia. Inilah cara saya memandang kasus Odelia. Dia telah membuat keputusan untuk menikahi sang pangeran. Orang – orang terdidik (terdidik bukan cuma sebatas sekolah!) tentunya tau bahwa dari setiap pilihan ada konsekwensi, dan konsekwensi ini harus diterima!
Memilih suatu keputusan tanpa mau menerima konsekwensinya buat gw terdengar seperti anak kecil. Pada faktanya, anak kecil(pada umumnya), tidak memilih. Mereka tidak memilih karena mereka ingin segalanya, ‘semuanya’. Sedangkan seiring berjalannya waktu, mereka mulai belajar bahwa mereka tidak bisa mendapatkan semuanya, karena itulah hal ini disebut memilih. Memilih berarti tidak mendapatkankan ‘semuanya’! Ketika seseorang memilih satu hal, ia berarti tidak memilih yang lainnya dan yang lainnya ini adalah konsekwensi dari pilihannya. Sekarang, menanggapi kasus Odelia, kenapa ia bersikap seperti anak kecil?
Ada beberapa kemungkinan. Satu, Odelia terbiasa mendapatkan ‘semuanya’ sehingga ia tidak tau apa arti memilih. Hal ini mungkin saja terjadi kalau ia berasal dari keluarga kaya namun bodoh. Kaya akan harta, tapi miskin ilmu yang berakibat ia tidak pernah diajarkan apa – apa tentang hidup, kecuali uang karena memang hanya uang yang mereka punya. Ini hanya kemungkinan, berhubung saya tidak tahu pasti keadaan keluarga Odelia. Kedua, ia memilih tanpa tahu konsekwensinya. Hal ini acap kali terjadi. Banyak orang memilih namun yang dilihat hanyalah yang ada di depan mata mereka. Mereka tidak melihat jauh ke depan, yang terlihat hanyalah kilauan pesona dari pilihan mereka. Ini adalah hal bodoh dan superficial. Apalagi kasus Odelia ini tentang perkawinan, yang masih banyak orang menganggap sebagai sesuatu yang sakral dan satu hal paling penting dalam hidup. Tapi ini juga cuman kemungkinan. Tapi kalo disuruh nebak, gw pilih pilihan kedua.
Pesan buat mbak Odelia, berhenti nangis aja mbak! Jangan mewek2 lah minta perlindungan nebar – nebar kebodohan sendiri memilih suami yang salah. Bayangkan, bisa – bisanya ia menikahi seorang psikopat?? Gw bingung bagaimana hal ini bisa terjadi!! Apa kata dunia!! Jaman sekarang cewek ato cowok semuanya udah sama, enggak ada bedanya. Cewek itu enggak lebih rendah dari cowok, semuanya setara. Udah banyak buktinya kok, banyak cewek – cewek yang bahkan lebih hebat dari cowok, Hillary Clinton, Angela Merkel, etc. Udah bukan jamannya lagi cewek disiksa – siksa dalam rumah tangga. Udah bukan jamannya lagi cewek tergantung ama cowok. Udah bukan jamannya lagi orang dianggap aneh kalo blom menikah diumur 30-an ato bahkan enggak nikah ama sekali. Those are all bullsh*t!!!
Bakri, Bakri, Kasian Banget Loe Jadi Orang…Gawat
Begitulah penggalan omongan Iwan Fals dalam salah satu lagu tenarnya ,Oemar Bakri. Tapi sekarang Bakri nya itu bukan seorang guru yang naik sepeda kumbang, atau guru yang gajinya dikebiri, melainkan Zaenal Bakri, seorang caleg dari Partai Kedaulatan DPD Jatim.
Zaenal Bakri, seperti yang diberitakan di liputan6.com, menyerang kantor partai Kedaulatan karena ia tidak terima namanya yang dulunya ditetapkan pada urutan pertama caleg diturunkan menjadi urutan kedua. Pada hari Rabu, September 17, ia bersama simpatisannya akhirnya menyerang kantor Partai Kedaulatan dan mengobrak-abrik kantor tersebut serta pengrusakan atribut-atribut partai tersebut.
Berikut beberapa opini gw tentang tindakan pak Bakri:
- Goblok
Ia goblok soalnya tidak tahu kalau tindakan kekerasan dia sendiri yang akan menenggelamkan harapannya untuk jadi caleg. Ditambah lagi sewaktu ia melakukan tindakan tersebut, jelas-jelas ada wartawan. Kalau rakyat sudah melihat ulah calegnya seperti ini, yang main kekerasan, siapa yang mau memilih dia? Lagian, yang namanya caleg itu senjata utamanya adalah ’kata-kata’, bukan tangan. Sudah 2008 tahun semenjak kelahiran Nabi Isa, masih ada saja orang primitif macam Zaenal Bakri.
- Anarkis
Hukum mana yang memperbolehkan pengrusakan? Karena itu, tindakan Zaenal Bakri bisa dibilang anarkis, berbuat semaunya seolah hukum itu tidak ada. Bisa dibilang ia melecehkan hukum Indonesia. Padahal ia mau jadi anggota Legislatif. Kalau anggota legislatifnya aja enggak mau ngikutin hukum dan memberi teladan, rakyat nya gimana? Memang tidak bisa dipungkiri hukum Indonesia lemah baik secara penegakan maupun secara struktural dan pengorganisasiannya. Tapi bukan berarti kita bisa seenaknya aja melakukan apapun yang kita mau, karena hukum itu letaknya tertinggi dalam suatu negara. Masak yang palng tinggi aja di injek-injek, apa kata dunia??
- Tidak Beretika
Immanuel Kant(kalo enggak salah) pernah berkata kalau kita mau tahu apakah tindakan kita itu beretika atau tidak, bayangkan bila semua orang melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan. Nah, sekarang kita bayangkan kalau semua orang di Indonesia, atau yang lebih spesifik semua caleg melakukan hal yang sama seperti yang Zaenal Bakri lakukan. Ancur lebur dah tuh negara.
Sekarang saya akan ajukan pertanyaan kepada rakyat Indonesia, terutama saudara-saudara di daerah Jawa Timur, ”Apakah kalian mau diwakili oleh orang yang goblok, anarkis, dan tidak beretika macam Zaenal Bakri?” Kalau kalian menikmati adu-jotos yang beberapa kali pernah terjadi di gedung DPR/MPR, maka Zaenal Bakri adalah calon yang patut diperhitungkan.
21 Jiwa Korban Hukum yang Tidak Jelas
Melanjuti insiden kematian 21 orang di Pasuruan, polisi akhirnya menetapkan satu orang yang bertanggung-jawab atas insiden tersebut. Haji Farouk, anak kedua dari Haji Syaikhon yang merupakan ketua panitia dari penyelenggaraan pembagian zakat, ditetapkan sebagai salah satu tersangka atau orang yang harus bertanggung jawab atas insiden Pasuruan.
Saya tidak setuju akan keputusan polisi menetapkan Haji Farouk sebagai satu-satunya orang yang harus menanggung semua tanggung jawab atas kematian 21 orang tersebut. Sebaiknya polisi berhenti menyalah-nyalahkan orang lain sebelum bertanya kepada diri mereka sendiri, “Apakah ini salah kita?”
Jelas bahwa alasan polisi memutuskan Haji Farouk sebagai tersangka itu terkesan mencari-cari kambing hitam karena terhimpit akan situasi dimana harus ada yang bertanggung jawab akan tuntutan 21 keluarga yang telah kehilangan satu anggota keluarganya dalam insiden tersebut. Tidak mungkin 21 keluarga tersebut akan rela begitu saja menerima akan kepergiaan salah satu anggota keluarganya, kecuali kalau mereka orang suci(hehe), tanpa kejelasan siapa yang harus bertanggung jawab dan disalahkan akan kematian orang yang mereka sayangi(Dalam paragraf selanjutnya, akan saya jelaskan mengapa saya bilang bahwa polisi mencari kambing hitam).
Kalau kita telaah lebih jauh, tidak bisa dipungkiri bahwa pihak Haji Syaikhon telah berbuat kesalahan dimana mereka tidak mengambil inisiatif untuk memanggil polisi untuk menjaga berlangsungnya pembagian zakat. Namun, polisi pun juga salah karena tidak berinisiatif menjaga berlangsungnya pemberian zakat yang telah selalu diadakan sekali setahun sejak lebih dari 10 tahun yang lalu.
Kenapa saya bilang bahwa polisi terkesan mencari-cari kambing hitam dan tidak melihat ke dalam diri mereka bahwa mereka pun juga bersalah? Itu karena hukum kita masih lemah, bukan hanya dalam hal penegakkan, tapi juga dari sisi sistem dan struktural dari hukum tersebut!
Untuk memuaskan 21 keluarga yang telah kehilangan, seseorang harus masuk ke dalam sel tahanan. Mudahlah polisi menunjuk-nunjuk pihak lain akan siapa yang harus bertanggung jawab akan insiden tersebut. Namun, ketika polisi menunjuk diri mereka sendiri, siapa kah yang harus masuk kedalam sel? Apakah seluruh kepolisian daerah Pasuruan harus masuk ke dalam sel? Apakah KAPOLDA Pasuruan yang harus masuk ke dalam sel?
Kalau kita berbicara secara idealis, selain Haji Farouk, polisi yang tahu akan berlangsungnya pembagian zakat dan tidak melaporkan hal tersebut ke atasan mereka-lah yang juga harus bertanggung jawab. Atau bisa juga polisi menjatuhkan vonis tersangka kepada polisi-polisi yang ruang-lingkup tanggung jawab daerahnya melingkupi daerah TKP. Namun tampaknya, polisi lebih memilih mangsa yang ada jelas di depan mata mereka dan yang paling lemah saja, yakni Haji Farouk.
Namun lepas dari itu semua, saya acungkan jempol akan upaya yang telah dilakukan POLRI agar insiden naas Pasuruan tidak terjadi lagi. Saya baru saja nge-cek liputan6.com, dimana di sana ditulis upaya POLRI mengamankan pembagian zakat di daerah Probolinggo yang saya liat(dari videonya) POLRI berusaha maximal untuk mengamankan pembagian zakat tersebut(yang secara tidak langsung membuktikan omongan saya bahwa polisi tahu dan sadar bahwa mereka juga bersalah atas insiden Pasuruan).
Tragedi Pasuruan, Salah Siapa?
Berita hangat yang terjadi baru-baru ini, dimana 21 orang tewas di daerah Pasuruan, Jawa Timur ketika berdesak-desakan untuk mendapatkan zakat yang dibagi-bagikan secara langsung oleh Haji Syaikon. Haji Syaikon bilang bahwa ia telah melakukan pembagian zakat ini sejak 15 tahun lalu dan selalu dihadiri oleh ribuan orang, dan korban jiwa belum pernah terjadi sebelumnya.
Saya tidak bisa menyalahkan Haji Syaikon. Walau Liputan 6 SCTV bilang bahwa pemberian zakat secara langsung itu tidak mendidik dan terkesan memberi cap lebih rendah kepada sang penerima zakat terhadap sang pemberi, tapi Haji Syaikon memiliki alasan yang bisa diterima, ia bilang ia tidak bisa percaya kepada organisasi-organisasi yang biasa bertugas untuk membagikan zakat.Well, siapa yang percaya?
Bodohnya, ketika ditanya, ”Mengapa Polisi tidak mengamankan jalannya pembagian zakat?”, pihak kepolisian menjawab jawaban yang sering keluar dari mulut anak SD, ”tidak tahu.”
Bagaimana mungkin Polisi tidak tahu? Haji Syaikon memberi info bahwa pembagian zakat itu sudah dilakukan dalam kurun waktu 15 TAHUN terakhir, dan antrian yang terdiri dari ribuan orang itu sudah hal biasa. Kalau Polisi selama 15 tahun tidak melihat kerumunan ribuan orang tiap tahun di halaman rumah pak Haji Syaikon, itu berarti mereka buta.
Polisi baru datang setelah 21 manusia tewas. Apakah semurah itu harga nyawa manusia di Indonesia? Saya bisa bilang bahwa ini adalah salah satu contoh yang menunjukan kegagalan POLRI dalam menjaga keamanan dan ketertiban warga. Well, siapa yang bilang polisi Indonesia itu pernah berhasil? Baru saja mereka membuat kesalahan dengan membiarkan FPI berulah kekerasan di depan tugu Monas, sekarang mereka sekali lagi menunjukkan ke lemot(lemah-otak)-an mereka.
Entah tragedi ini kesalahan siapa. Apakah ini kesalahan organisasi-organisasi penyalur zakat yang tak berkredibilitas? Ataukah ini salah penduduk sekitar rumah Haji Syaikon yang juga selama 15 tahun melihat betapa ramai dan berbahayanya kerumunan tersebut, namun mereka juga tidak pernah berinisiatif untuk menghubungi polisi? Ataukah ini salah Haji Syaikon sendiri yang tidak bisa mempercayai para penyalur zakat, dimana jikalau ia percaya akan para penyalur zakat tersebut, hal ini tak akan pernah terjadi? Ataukah ini salah pemerintah yang gagal mengurus rakyatnya sehingga rakyatnya kelaparan? Atau ini salah saya yang hanya bisa menulis, hanya bisa mengkritik, tapi tak berbuat apa-apa dan alhasil 21 jiwa melayang?
Mungkin ini salah kita semua. Namun, yang tugas utamanya adalah memelihara keamanan dan ketertiban itu adalah POLISI!
By: Kirana Effendi
Dijajah Siapa?

Obat kebodohan
“Kemerdekaan ialah hak segala bangsa“, itulah penggalan alinea pertama dari pembukaan UUD 45. Undang – undang yang mendasari negara kita agar mau memperjuangkan dan menghargai kemerdekaan suatu bangsa. Mendengarkan pembukaan undang – undang tersebut tentulah kita akan selalu berfikir apakah benar kemerdekaan ialah hak segala bangsa, jika memang benar apakah setiap kemerdekaan harus diperjuangkan dan jika untuk semua bangsa maka apa maksudnya, pertanyaan demi pertanyaan ini menggugah saya untuk berfikir mengenai apa itu arti dari kalimat kemerdekaan ialah hak bagi semua bangsa. Apakah semua bangsa itu secara lahiriah memiliki hak untuk memerdekakan diri atau harus berjuang agar mendapatkan kemerdekaan. Apakah kita harus berjuang untuk menciptakan dan mempertahankan kemerdekaan yang merupakan hak segala bangsa dan seluruh umat manusia?
“Kemerdekaan bagi semua bangsa”; apa maksud dari kemerdekaan itu jika ingin dilihat kita pernah dijajah, apa merdeka itu dari penjajahan atas bangsa lain? Saya mulai bimbang lagi akan fakta kemerdekaan bagi semua bangsa. Jika kita sudah merdeka, mengapa banyak saudara kita yang tidak bisa mendapatkan haknya? Apakah ini suatu bentuk penjajahan modern dimana bangsa kita menjajah diri sendiri. Arti kalimat “kita menjajah diri sendiri” adalah sesuatu yang harus kita telaah lebih lanjut. Atas apa kita dijajah oleh diri kita sendiri? Apakah atas kepentingan satu dua pihak, atau dominasi akan kekuasaan? Menurut saya, penjajahan atas bangsa sendiri bisa terjadi dengan alasan ‘KEBODOHAN‘.
Kebodohan merupakan sebuah bentuk penjajahan di masa modern. Beberapa hari lalu kita mendengarkan berita di televisi tentang padi Super Toy, benih padi hasil pengembangan PT. SHI. Perusahaan mengklaim ini benih varietas unggulan baru, hasil lima kali lipat dari varietas biasa. Namun, apa hasilnya alih – alih lima kali lipat bisa menghasilkan satu biji padi saja sudah syukur. Begitu mudah bangsa kita dibodohi oleh iming – iming manis tanpa bukti nyata. Tak hanya itu, kasus yang lebih besar lagi publik kita di bodohi dengan mudah oleh negara lain. Contoh lain adalah Singapura, yang telah mencuri pasir negar kita dari kepulaan Riau, tepatnya Tanjung Pinang untuk menguruk pulau – pulau di Singapura agar Proyek pulau Sentosa berjalan. Mulai dari tahun 2000 pasir itu terus di curi hingga batas pulau Singapura bertambah lebih dari 100 kilometer. Hebat bukan! Tidak bisa memiliki sesuatu, lalu dipindahkan saja seenaknya. Memang miris mengetahui kenyaatan ini. Tetapi lebih miris lagi melihat pemerintah yang telah kehilangan akal sehatnya akan fakta ini karena di butakan uang. Saya mulai berfikir lagi apa pantas harga diri negara diganti uang.
Kebodohan seperti sudah menjadi akar negara ini, bodoh karena bisa dibodohi oleh uang, akibatnya maka miskin; miskin harkat, miskin matabat dan miskin materi. Lihatlah penjualan aset negara kepada perusahaan asing karena iming – iming uang suap yang pada akhirnya dikorbankan adalah rakyat, terutama rakyat kecil. Apa pantas demi uang sampai merugikan rakyat kita yang jumlahnya lebih dari dua ratus juta dan pantaskah melihat harkat dan martabat negara ini diinjak – injak? Banya kita yang hanya akan berfikir ,” halah itu bukan urusan, asal masih ada mall, gak masalah!” Sinting ya, sinting benar generasi ini! Apakah pembangunan setelah enam puluh tiga tahun kemerdekaan (katanya ) ini hanya menghasilkan generasi seperti ini? lalu apa arti merdeka bagi semua bangsa yang tertera pada undang – undang dasar? Bagi kita, kemerdekaan ialah hak setiap bangsa menjajah kita. Marilah kita sedikit lebih sadar, kita ini belum merdeka. Kita ini hanya baru lepas dari satu penjajah, bukan merdeka. Marilah kita proklamasikan suara kita demi tercapainya kemerdekaan yang sesungguhnya yaitu merdeka dari kemiskinan harkat, martabat dan materi serta kebodohan atas pemikiran, penalaran dan religi kita!
by: -Robert-
Rakyat dalam Demokrasi
Dimulai dari arti demokrasi. Demokrasi adalah sistem yang berorientasi pada rakyat. Sistem yang bersumber dan bermuara ke rakyat, atau yang lebih sering di dengar, “Oleh rakyat, Untuk rakyat, dan Dari rakyat.”
Kemarin saya melihat ratifikasi suatu partai baru menjadi peserta sah pemilu April 2009 nanti. Terlihat suporter dari partai tersebut bersorak-sorai di jalan raya, ada yang menari di atas kap mobil, yang menurut saya agak berlebihan, tapi dapat dimaklumi.
Namun, tiba-tiba pertanyaan muncul dalam benak saya, “Apakah mereka benar-benar mengerti visi dan misi dari partai mereka, apakah mereka mengerti visi dari calon presiden atau legislatif mereka, APA MEREKA MEMILIKI VISI DALAM MEMILIH CALON MEREKA?”
Ironis, karena hati saya berkata bahwa mereka adalah orang-orang lugu. Mereka tidak mengerti atau melihat visi dan misi dari siapapun, bahkan visi mereka sendiri pun ragu. Mereka tidak tahu jiwa mereka berdiri untuk siapa. Mereka tak tahu apa yang mereka bela.
Lalu, dimana letak demokrasi? Dimanakah istilah “Oleh, Dari, dan Untuk Rakyat?” Yang ada ialah “Oleh rakyat, dari dan untuk seseorang atau individu”, yang menginjak kepala rakyat untuk sampai ke tahta yang ia inginkan. Yang ada bukanlah keinginan rakyat akan “kemana arah negara kita akan berlayar”, namun keinginan satu individu yang haus akan kekuasaan untuk mengontrol 1 kapal bocor yang dinaiki lebih dari 230 juta manusia. Apakah ini sistem demokrasi yang kita maknai selama ini?
Sekali lagi saya tegaskan, “Partai ada untuk rakyat, bukan sebaliknya! Dan rakyat harus memiliki visi karena Partai dan Badan Permusyawaratan Perwakilan SEHARUSNYA akan mewakili visi rakyat!“
Satu masalah lagi kemudian muncul, masih banyak rakyat yang belum memiliki visi. Jangan salahkan presiden bila ia bergerak tanpa visi dan misi yang jelas karena negara berlayar bukan berdasar visi presiden, tapi visi rakyat!!
Solusinya hanya satu kata, PENDIDIKAN. Di balik semua peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di Indonesia, mulai dari proklamasi, pergerakan mahasisiwa sekitar tenggelamnya tahun 1960-an, penggulingan presiden Soeharto tahun 1998, pendidikanlah, atau lebih tepatnya ILMU PENGETAHUAN DAN WAWASAN, yang membangunkan dan membuka mata para patriot-patriot muda akan kebenaran.
Sayang, masih banyak yang belum sadar akan betapa krusial, fundamental, dan signifikan arti pendidikan dalam sebuah kapal bernafas demokrasi. Bahkan orang-orang jaman pra-proklamasi layaknya Ki Hajar Dewantara, sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Bung Karno pernah bilang ,” Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawan-pahlawannya.” Lalu, kemana kah larinya idealisme Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan tersebut. Apakah dengan menelantarkan idealisme pahlawah kita, itu berarti kita sudah menghormati mereka? Selama pendidikan itu terlantar dan tidak bervisi, generasi sekarang adalah generasi yang terjebak. Terjebak diantara generasi tua yang tidak kredibel & generasi masa depan yang tidak lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya dikarenakan mereka dihasilkan oleh sistem pendidikan yang tidak mempunyai idealisme, tidak prinsipil, & tidak mempunyai arah yang jelas.
Dengan ini saya berseru kepada kawan-kawan semua, yang peduli dan mengerutkan dahi setiap melihat atau mendengar kondisi Indonesia saat ini, yang menginginkan perubahan, yang masih memiliki harapan akan bangsa ini, untuk membuka mata saudara-saudara setanah-air kita yang nyasar, yang terjebak, yang dipermainkan oleh tipuan murahan politikus-politikus kita. Ajaklah mereka untuk menggunakan 2 senjata yang membedakan antara hewan dan manusia, akal & hati nurani. Bukalah mata mereka agar jangan memakan umpan-umpan politikus tanpa mengetahui akan dibawa kemana negeri kita setelah kita memakan umpan tersebut. Karena kalau kita memilih calon yang salah, kita, rakyat Indonesia, hanya memiliki diri kita sendiri untuk dipersalahkan.
Kekurangan Bermantel Kelebihan

Apakah Anda Masih bisa Gembira ketika Melihat Anak Jalan Ini?
Dalam salah satu acara Kenduri Cinta, Emha Ainun Najib atau yang lebih akrab disapa Cak Nun mengatakan bahwa rakyat Indonesia adalah rakyat yang pandai sekali mengakali kondisi mereka, rakyat Indonesia adalah orang – orang yang bisa menemukan kegembiraan walau dijatuhkan sedalam-dalamnya atau dibuang sejauh-jauhnya. Lalu Cak Nun melanjutkan dengan bertanya hal yang sangat fundamental kepada audien Kenduri Cinta pada malam itu, “Apakah ini kekurangan atau kelebihan?” Cak Nun dengan sangat cerdik dan bijak, meninggalkan pertanyaan tersebut di benak para pendengarnya tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
Semua orang boleh memiliki opininya masing-masing. Namun menjawab pertanyaan Cak Nun tersebut, saya akan menjawab bahwa hal itu adalah “kekurangan” bangsa Indonesia.
Tidak dapat dipungkiri, manusia pada umumnya mencari 1 hal dalam hidupnya di dunia ini, kepuasan. Dan manusia secara insting akan terus bergerak sampai ia menemukan kepuasannya tersebut. Dan dengan sifat rakyat Indonesia yang Cak Nun sebutkan, tanpa harus memeras keringat, menajamkan hati dan pikiran, atau yang lebih awam disebut “usaha”, rakyat Indonesia seolah tercipata untuk selalu puas, yang tentunya membawa kebahagiaan bagi diri mereka masing.
Namun, disamping anugrah yang khusus diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia akan kepuasan tanpa berusaha tersebut, kepuasaan rakyat Indonesia itu memiliki sebuah drawback yang signifikan, rakyat menjadi “statis“. Statis merupakan anonim dari dinamis, dan hal inilah yang membuat Indonesia “masih” dicap sebagai “The Third World” atau “Negara dunia ke-3″. Dan karena alasan inilah saya berpendapat bahwa kepuasan rakyat akan kondisi Indonesia saat ini merupakan suatu kekurangan, karena tidak sesuai dengan ide dan harapan saya sebagai rakyat akan nasib bangsa, yang saya ingin tidak dipandang rendah dipentas dunia dan dilepaskan dari cap “negara dunia ke-3″. Bisa disimpulkan bahwa menurut saya, intuisi rakyat Indonesia menggembirakan dirinya dalam segala kondisi adalah “Kekurangan bermantel Kelebihan”.
by: -Effendi-