Gerakan Pemuda Blog

Just another WordPress.com weblog

Arsip untuk kategori ‘Puisi

Sajak Sebatang Lisong

tinggalkan komentar »

by: WS Rendra

Menghisap sebatang lisong

melihat Indonesia raya

mendengar 130 juta rakyat

dan dilangit 2, 3 cukong mengangkang

berak, diatas kepala mereka

Matahari terbit

fajar tiba

dan aku melihat 8 juta kanak-kanak tanpa pendidikan

Aku bertanya,

tetapi pertanyaanku membenturi meja-meja kekuasaan yang macet

dan papan-tulis papan-tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan

8 juta kanak-kanak

menghadapi satu jalan panjang

tanpa pilihan,

tanpa pepohonan,

tanpa danau persinggahan,

tanpa ada bayangan ujungnya

Menghisap udara yang disemprot deodoran

aku melihat

sarjana-sarjana menganggur

berpeluh di jalan-raya,

aku melihat

wanita-wanita bunting antri uang pensiun

dan di langit para teknokrat berkata

bangsa kita adalah bangsa yang malas

bahwa bangsa mesti di bangun, mesti di upgrade

disesuaikan dengan teknologi yang di import

Gunung-gunung menjulang,

langit pesta warna di dalam senja kala

dan aku melihat protes terpendam

terhimpit di bawah tilam

Aku bertanya,

tetapi pertanyaanku membentur jidat para penyair salon

yang bersajak tentang anggur dan rembulan

sementara ketidak-adilan terjadi disampingnya

dan 8 juta kanak-kanak tanpa pendidikan

termangu-mangu di bawah kaki dewi kesenian

Bunga-bunga bangsa tahun depan

berkunang-kunang pandang matanya

di bawah iklan berlampu neon

Berjuta-juta harapan ibu dan bapak

menjadi gebalau suara yang kacau

menjadi karang dibawah muka samudra

Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing

tekad-tekad hanya boleh memberi metode

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

Kita mesti keluar ke jalan raya

keluar ke desa-desa

menghayati sendiri semua gejala

dan menghayati persoalan yang nyata

Sajakku,

pamflet masa darurat

apalah artinya renda-renda kesenian

bila terpisah dari derita lingkungan

apalah artinya berpikir

bila terpisah dari masalah kehidupan

kepadamu aku bertanya

Ditulis oleh camo1620

September 14, 2008 pada 9:41 am

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

Rayu Santi – Santi

tinggalkan komentar »

Rayu Santi-Santi
karya WS Rendra

Ratap tangis menerpa pintu kalbuku
Bau anyir darah mengagu tidur malamku

Oh tikar tafakur
Oh bau sungai Tohor yang kotor
Bagaimana aku bisa membaca keadaan ini?

Di atas atap kesepian nalar pikiran
Yang digalaukan oleh lampu-lampu kota yang bertengkar dengan malam
Aku menyerukan namamu,
Wahai! Para leluhur nusantara!

Oh Sanjaya,
Leluhur dari kebudayaan tanah
Oh Purnawarman,
Leluhur dari kebudayaan air
Kedua wangsa mu telah mampu mempersekutukan budaya tanah dan budaya air,
tanah,
air

Oh Resi Kuturan,
Oh Resi Nerarte,
Empu-empu tampan yang penuh kedamaian
Telah kamu ajarkan tatanan hidup yang aneka dan sejahtera
Yang dijaga oleh dewan hukum adat

Bagaimana aku bisa mengerti bangsa phising dari bangsaku ini?

Oh Katjau Lalido,
Bintang cemerlang tanau ugi
Negarawan yang pintar dan bijaksana
Telah kamu ajarkan aturan permainan di dalam benturan-benturan keinginan yang berbagai ragam dalam kehidupan
Ade, Wicara, Rabang, dan Wali
Ialah adat, peradilan, Yudis-prodensi, dan pemerincian perkara
Yang dijaman itu, di Eropa, belum ada
Kode Napoleon 2 abad lagi baru dilahirkan

Oh lihatkan wajah-wajah berdarah
Dari rahim yang diperkosa
Muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda
Kejahatan kasat mata tertawa tanpa pengadilan
Kekuasaan kekerasan kaki-tangan penguasa berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan
Dan para hakim yang tak mau dikontrol korupsinya,
Berakrobat jempalitan di atas meja hijau mereka

Oh Airlangga,
Raja tampan bagai Arjuna,
Dalam usia 17 tahun
Kau dorong rakyat di desa-desa adat untuk menyempurnakan keadilan hukum adat mereka yang berbeda-beda
Dan lalu kau perintahkan,
Agar setiap adat mempunyai 40 prajurit adat
Yang menjaga berlakunya hukum adat
Sehingga hukum adat menjadi adil, mandiri, dan terkawal
Baru kemudian sesudah itu,
Empu Baradah membantumu menciptakan hukum kerajaan
Yang mempersatukan cara-cara kerjasama antar hukum adat yang berbeda-beda
Sehingga penyair Tantular berseru, Bhineka Tunggal Ika!

Tetapi lihatlah di jaman ini,
Para elit politik
Hanya terlatih untuk jalan-jalan di pasar
Tersenyum, dan melambaikan tangan
Sok egaliter!
Tetapi egalitarianisme tidak otomatis berarti demokrasi

Dengan puisi ini aku bersaksi:
Bahwa hati nurani ini mesti dibakar
Tidak bisa menjadi abu
Hati nurani senantiasa bisa bersemi
Meski sudah ditebang putus di batang
Begitulah,
Fitrah manusia ciptaan Tuhan, yang maha Esa

Ditulis oleh camo1620

Agustus 30, 2008 pada 1:24 am

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

Sampah!

tinggalkan komentar »

Sad..

Sad..

sampah masyarakat..
apa itu???
apa ada yang tak disebut sampah??
semua menyumpah
semua memaki
semua mendengki
semua merusak
semua mendendam
semua ya semua
mau besar kecil
atas bawah
depan belakang
semua tak ada beda
entah suci atau busuk
entah bersih atau kotor
jaminkah kalau bukan sampah???
pintar bodoh tak punya logika
kaya miskin tak punya hati
yang kaya tapi miskin
yang miskin tapi kaya
terbalik semua semua terbalik
jelas semua semua jelas
apa yang seharusnya terjadi
apa yang tak seharusnya terjadi
ketika mata ditutup
disitu mulut bicara
disaat mulut tertutup
mata melihat semua
apa yang direkayasa…
apa yang salah jadi benar
apa yang benar jadi salah…
itukah negeriku?
itukah negaraku?

by: -Yotsuba-

Ditulis oleh camo1620

Agustus 27, 2008 pada 9:11 am

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

BEBAS!

dengan 2 komentar

“Bebas”

bebas ialah lepas
lepas akan akar masalah
lepas akan kemiskinan
lepas akan penderitaan

bebas ialah luas
luas akan berwawasan
luas akan jalan hidup
luas terbentang,
dengan langit sebagai batasnya

Namun,
kebebasan tak kunjung ku temukan
lepas?
luas?
yang kudengar hanya kebebasan saja
tanpa arti dan perbuatan
kosong,
bak sebuah kata tanpa arti

Kita menjadi saksi jaman,
akan hilang nya 1 kata,
Kata yang mengobarkan api dalam diri rakyat,
dulu,

Lama sudah waktu berlalu
Api dalam jiwa, padam…
hilang mimpi,
hilang harapan,
hilang tujuan,
hilang daya juang,
hilanglah kebebasan

By: -Junior-

Ditulis oleh camo1620

Agustus 19, 2008 pada 8:25 pm

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.