Dijajah Siapa?

Obat kebodohan
“Kemerdekaan ialah hak segala bangsa“, itulah penggalan alinea pertama dari pembukaan UUD 45. Undang – undang yang mendasari negara kita agar mau memperjuangkan dan menghargai kemerdekaan suatu bangsa. Mendengarkan pembukaan undang – undang tersebut tentulah kita akan selalu berfikir apakah benar kemerdekaan ialah hak segala bangsa, jika memang benar apakah setiap kemerdekaan harus diperjuangkan dan jika untuk semua bangsa maka apa maksudnya, pertanyaan demi pertanyaan ini menggugah saya untuk berfikir mengenai apa itu arti dari kalimat kemerdekaan ialah hak bagi semua bangsa. Apakah semua bangsa itu secara lahiriah memiliki hak untuk memerdekakan diri atau harus berjuang agar mendapatkan kemerdekaan. Apakah kita harus berjuang untuk menciptakan dan mempertahankan kemerdekaan yang merupakan hak segala bangsa dan seluruh umat manusia?
“Kemerdekaan bagi semua bangsa”; apa maksud dari kemerdekaan itu jika ingin dilihat kita pernah dijajah, apa merdeka itu dari penjajahan atas bangsa lain? Saya mulai bimbang lagi akan fakta kemerdekaan bagi semua bangsa. Jika kita sudah merdeka, mengapa banyak saudara kita yang tidak bisa mendapatkan haknya? Apakah ini suatu bentuk penjajahan modern dimana bangsa kita menjajah diri sendiri. Arti kalimat “kita menjajah diri sendiri” adalah sesuatu yang harus kita telaah lebih lanjut. Atas apa kita dijajah oleh diri kita sendiri? Apakah atas kepentingan satu dua pihak, atau dominasi akan kekuasaan? Menurut saya, penjajahan atas bangsa sendiri bisa terjadi dengan alasan ‘KEBODOHAN‘.
Kebodohan merupakan sebuah bentuk penjajahan di masa modern. Beberapa hari lalu kita mendengarkan berita di televisi tentang padi Super Toy, benih padi hasil pengembangan PT. SHI. Perusahaan mengklaim ini benih varietas unggulan baru, hasil lima kali lipat dari varietas biasa. Namun, apa hasilnya alih – alih lima kali lipat bisa menghasilkan satu biji padi saja sudah syukur. Begitu mudah bangsa kita dibodohi oleh iming – iming manis tanpa bukti nyata. Tak hanya itu, kasus yang lebih besar lagi publik kita di bodohi dengan mudah oleh negara lain. Contoh lain adalah Singapura, yang telah mencuri pasir negar kita dari kepulaan Riau, tepatnya Tanjung Pinang untuk menguruk pulau – pulau di Singapura agar Proyek pulau Sentosa berjalan. Mulai dari tahun 2000 pasir itu terus di curi hingga batas pulau Singapura bertambah lebih dari 100 kilometer. Hebat bukan! Tidak bisa memiliki sesuatu, lalu dipindahkan saja seenaknya. Memang miris mengetahui kenyaatan ini. Tetapi lebih miris lagi melihat pemerintah yang telah kehilangan akal sehatnya akan fakta ini karena di butakan uang. Saya mulai berfikir lagi apa pantas harga diri negara diganti uang.
Kebodohan seperti sudah menjadi akar negara ini, bodoh karena bisa dibodohi oleh uang, akibatnya maka miskin; miskin harkat, miskin matabat dan miskin materi. Lihatlah penjualan aset negara kepada perusahaan asing karena iming – iming uang suap yang pada akhirnya dikorbankan adalah rakyat, terutama rakyat kecil. Apa pantas demi uang sampai merugikan rakyat kita yang jumlahnya lebih dari dua ratus juta dan pantaskah melihat harkat dan martabat negara ini diinjak – injak? Banya kita yang hanya akan berfikir ,” halah itu bukan urusan, asal masih ada mall, gak masalah!” Sinting ya, sinting benar generasi ini! Apakah pembangunan setelah enam puluh tiga tahun kemerdekaan (katanya ) ini hanya menghasilkan generasi seperti ini? lalu apa arti merdeka bagi semua bangsa yang tertera pada undang – undang dasar? Bagi kita, kemerdekaan ialah hak setiap bangsa menjajah kita. Marilah kita sedikit lebih sadar, kita ini belum merdeka. Kita ini hanya baru lepas dari satu penjajah, bukan merdeka. Marilah kita proklamasikan suara kita demi tercapainya kemerdekaan yang sesungguhnya yaitu merdeka dari kemiskinan harkat, martabat dan materi serta kebodohan atas pemikiran, penalaran dan religi kita!
by: -Robert-
Rakyat dalam Demokrasi
Dimulai dari arti demokrasi. Demokrasi adalah sistem yang berorientasi pada rakyat. Sistem yang bersumber dan bermuara ke rakyat, atau yang lebih sering di dengar, “Oleh rakyat, Untuk rakyat, dan Dari rakyat.”
Kemarin saya melihat ratifikasi suatu partai baru menjadi peserta sah pemilu April 2009 nanti. Terlihat suporter dari partai tersebut bersorak-sorai di jalan raya, ada yang menari di atas kap mobil, yang menurut saya agak berlebihan, tapi dapat dimaklumi.
Namun, tiba-tiba pertanyaan muncul dalam benak saya, “Apakah mereka benar-benar mengerti visi dan misi dari partai mereka, apakah mereka mengerti visi dari calon presiden atau legislatif mereka, APA MEREKA MEMILIKI VISI DALAM MEMILIH CALON MEREKA?”
Ironis, karena hati saya berkata bahwa mereka adalah orang-orang lugu. Mereka tidak mengerti atau melihat visi dan misi dari siapapun, bahkan visi mereka sendiri pun ragu. Mereka tidak tahu jiwa mereka berdiri untuk siapa. Mereka tak tahu apa yang mereka bela.
Lalu, dimana letak demokrasi? Dimanakah istilah “Oleh, Dari, dan Untuk Rakyat?” Yang ada ialah “Oleh rakyat, dari dan untuk seseorang atau individu”, yang menginjak kepala rakyat untuk sampai ke tahta yang ia inginkan. Yang ada bukanlah keinginan rakyat akan “kemana arah negara kita akan berlayar”, namun keinginan satu individu yang haus akan kekuasaan untuk mengontrol 1 kapal bocor yang dinaiki lebih dari 230 juta manusia. Apakah ini sistem demokrasi yang kita maknai selama ini?
Sekali lagi saya tegaskan, “Partai ada untuk rakyat, bukan sebaliknya! Dan rakyat harus memiliki visi karena Partai dan Badan Permusyawaratan Perwakilan SEHARUSNYA akan mewakili visi rakyat!“
Satu masalah lagi kemudian muncul, masih banyak rakyat yang belum memiliki visi. Jangan salahkan presiden bila ia bergerak tanpa visi dan misi yang jelas karena negara berlayar bukan berdasar visi presiden, tapi visi rakyat!!
Solusinya hanya satu kata, PENDIDIKAN. Di balik semua peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di Indonesia, mulai dari proklamasi, pergerakan mahasisiwa sekitar tenggelamnya tahun 1960-an, penggulingan presiden Soeharto tahun 1998, pendidikanlah, atau lebih tepatnya ILMU PENGETAHUAN DAN WAWASAN, yang membangunkan dan membuka mata para patriot-patriot muda akan kebenaran.
Sayang, masih banyak yang belum sadar akan betapa krusial, fundamental, dan signifikan arti pendidikan dalam sebuah kapal bernafas demokrasi. Bahkan orang-orang jaman pra-proklamasi layaknya Ki Hajar Dewantara, sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Bung Karno pernah bilang ,” Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawan-pahlawannya.” Lalu, kemana kah larinya idealisme Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan tersebut. Apakah dengan menelantarkan idealisme pahlawah kita, itu berarti kita sudah menghormati mereka? Selama pendidikan itu terlantar dan tidak bervisi, generasi sekarang adalah generasi yang terjebak. Terjebak diantara generasi tua yang tidak kredibel & generasi masa depan yang tidak lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya dikarenakan mereka dihasilkan oleh sistem pendidikan yang tidak mempunyai idealisme, tidak prinsipil, & tidak mempunyai arah yang jelas.
Dengan ini saya berseru kepada kawan-kawan semua, yang peduli dan mengerutkan dahi setiap melihat atau mendengar kondisi Indonesia saat ini, yang menginginkan perubahan, yang masih memiliki harapan akan bangsa ini, untuk membuka mata saudara-saudara setanah-air kita yang nyasar, yang terjebak, yang dipermainkan oleh tipuan murahan politikus-politikus kita. Ajaklah mereka untuk menggunakan 2 senjata yang membedakan antara hewan dan manusia, akal & hati nurani. Bukalah mata mereka agar jangan memakan umpan-umpan politikus tanpa mengetahui akan dibawa kemana negeri kita setelah kita memakan umpan tersebut. Karena kalau kita memilih calon yang salah, kita, rakyat Indonesia, hanya memiliki diri kita sendiri untuk dipersalahkan.
Lika-Liku Pemilu
Masa pemilu merupakan masa setiap lima tahun sekali, masa dimana para partai politik maupun politisi berlomba – lomba menghimpun masa untuk mendapatkan dukungan. Pemilu tak hanya sekedar sebuah agenda lima tahunan tetapi juga merupakan babak baru dalam arah pemerintahan kita. Karena pada pemilu juga kita kita dapat memilih siapa presiden maupun wakil presiden secara langsung yang kemudian akan memerintah selama lima tahun mendatang.
Sejarah pemilu sendiri sudah berlangsung sejak masa orde lama. Dimana pada masa itu semua parpol maupun politisi di dominasi oleh para pemuda – pemudi yang memiliki visi dan semangat untuk membangun Negara Indonesia . Pemilu saat itu juga diikiuti oleh banyak parpol,hingga delapan puluh parpol. Tetapi karena dianggap tidak efektif maka pada pemilu berikutnya jumlah parpol peserta pemilu mulai di kurangi atau dikelompokan berdasarkan partai agama, yang dulu disebut Partai Persatuan Pembangungan ( PPP ), lalu partai yang mengusung para pemuda yang digabung menjadi Partai Demokrasi Indonesia ( PDI ), lalu partai yang mengusung kaum intelek atau Partai Golongan Karya ( Golkar ).
Pemilu pada masa orde baru dimana saat itu Negara sedang mencanangkan progam repelita atau pembangunan. Pemilu berjalan dengan tidak demokratis dimana pada saat itu kekuasaan menjadi sebuah kunci kemenangan pemilu bukan demokrasi yang semestinya. Selama kurang lebih 32 tahun partai pemilu yang memenangkan pemilu adalah Golkar, yang juga mengusung Mantan Presiden Alm. Soeharto sebagai capresnya.
Baru setelah tahun 1999 pemilu pertama yang disebut sebagai pemilu yang demokratis dilangsungkan. Pesertanya pun tidak tanggung – tanggung jumlahnya 48 parpol. Baru pada masa itu para capres dari mulai berlomba – lomba berkampanye menyuarakan aspirasi mereka tentang pembanggunan. Hasil yang di capai pun sangat membanggakan kebebasan pers didapatkan pada masa pemerintahan Mantan presiden Gus Dur. Melalui kebebasan pers itu pula sekarang kita dapat mengetahui informasi tentang progam – progam, visi misi serta strategi pemerintahan apa yang akan di canangkan kemudian hari sehinnga dapat menjadi acuan kita untuk menentukan arah negara ini menuju Indonesia yang sejahtera dan maju.
Setelah era Gus Dur Negara mulai benar – benar demokratis dalam pemilu. Tetapi sayang ada beberapa politisi yang terus memanfaatkan kelemahan perundang – undangan politik dengan memanfaatkan perolehan suara mereka demi kursi DPR. Kursi yang menentukan arah kemajuan Negara ini. Tak ayal pula kasus demi kasus mulai merebak seperti korupsi mulai terungkap mulai dari kasus Al amin, Artalita, bahkan skandal – skandal sexual anggota DPR. Seakan membuka borok akan para politisi kita yang hanya mementingkan diri mereka sendiri, bukan rakyat seperti seharusnya.
Sejarah pemilu sendiri akan memasuki era baru dimana pada tahun depan pemilu akan diadakan tepatnya tahun 2009. Sudah banyk parpol yang berkampanye, ada partai – partai lama tetapi ada juga partai baru – baru tetapi yang terlihat adalah Muka – muka lama yang istilahnya masih mengusung pemahaman lama atau pemahaman kolot, atau masih mementingkan golongannya saja. Pemilu 2009 semestinya merupakan era baru bagi tradisi pemilu kita yaitu tradisi untuk lebih cermat dalam memilih. Jangan sampai terjebak caleg maupun capres rekondisi atau cale dan capres muka lama yang hanya berganti kostum partai tetapi tetap menganut sistem lama bahkan di boncengi oleh koruptor yang mementingkan diri mereka sendiri.
Marilah kita lebih mawas diri jangan hanya melihat maupun mendengar janji – janji kampanye tetapi juga pelajari apa yang mereka utarakan. Karena kelengahan, ataupun ketidak bijakan kita dalam memilih akan berakibat arah negara dan kondisi negara yang tidak akan sesuai dengan keinginan kita dalam 5 tahun mendatang. Jangan sampai anda menyesal dengan pilihan anda, dan ujung-ujungnya baru demo setelah pilihan anda mengecewakan dan memukul jatuh kepercayaan anda.
Rayu Santi – Santi
Rayu Santi-Santi
karya WS Rendra
Ratap tangis menerpa pintu kalbuku
Bau anyir darah mengagu tidur malamku
Oh tikar tafakur
Oh bau sungai Tohor yang kotor
Bagaimana aku bisa membaca keadaan ini?
Di atas atap kesepian nalar pikiran
Yang digalaukan oleh lampu-lampu kota yang bertengkar dengan malam
Aku menyerukan namamu,
Wahai! Para leluhur nusantara!
Oh Sanjaya,
Leluhur dari kebudayaan tanah
Oh Purnawarman,
Leluhur dari kebudayaan air
Kedua wangsa mu telah mampu mempersekutukan budaya tanah dan budaya air,
tanah,
air
Oh Resi Kuturan,
Oh Resi Nerarte,
Empu-empu tampan yang penuh kedamaian
Telah kamu ajarkan tatanan hidup yang aneka dan sejahtera
Yang dijaga oleh dewan hukum adat
Bagaimana aku bisa mengerti bangsa phising dari bangsaku ini?
Oh Katjau Lalido,
Bintang cemerlang tanau ugi
Negarawan yang pintar dan bijaksana
Telah kamu ajarkan aturan permainan di dalam benturan-benturan keinginan yang berbagai ragam dalam kehidupan
Ade, Wicara, Rabang, dan Wali
Ialah adat, peradilan, Yudis-prodensi, dan pemerincian perkara
Yang dijaman itu, di Eropa, belum ada
Kode Napoleon 2 abad lagi baru dilahirkan
Oh lihatkan wajah-wajah berdarah
Dari rahim yang diperkosa
Muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda
Kejahatan kasat mata tertawa tanpa pengadilan
Kekuasaan kekerasan kaki-tangan penguasa berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan
Dan para hakim yang tak mau dikontrol korupsinya,
Berakrobat jempalitan di atas meja hijau mereka
Oh Airlangga,
Raja tampan bagai Arjuna,
Dalam usia 17 tahun
Kau dorong rakyat di desa-desa adat untuk menyempurnakan keadilan hukum adat mereka yang berbeda-beda
Dan lalu kau perintahkan,
Agar setiap adat mempunyai 40 prajurit adat
Yang menjaga berlakunya hukum adat
Sehingga hukum adat menjadi adil, mandiri, dan terkawal
Baru kemudian sesudah itu,
Empu Baradah membantumu menciptakan hukum kerajaan
Yang mempersatukan cara-cara kerjasama antar hukum adat yang berbeda-beda
Sehingga penyair Tantular berseru, Bhineka Tunggal Ika!
Tetapi lihatlah di jaman ini,
Para elit politik
Hanya terlatih untuk jalan-jalan di pasar
Tersenyum, dan melambaikan tangan
Sok egaliter!
Tetapi egalitarianisme tidak otomatis berarti demokrasi
Dengan puisi ini aku bersaksi:
Bahwa hati nurani ini mesti dibakar
Tidak bisa menjadi abu
Hati nurani senantiasa bisa bersemi
Meski sudah ditebang putus di batang
Begitulah,
Fitrah manusia ciptaan Tuhan, yang maha Esa
Kekurangan Bermantel Kelebihan

Apakah Anda Masih bisa Gembira ketika Melihat Anak Jalan Ini?
Dalam salah satu acara Kenduri Cinta, Emha Ainun Najib atau yang lebih akrab disapa Cak Nun mengatakan bahwa rakyat Indonesia adalah rakyat yang pandai sekali mengakali kondisi mereka, rakyat Indonesia adalah orang – orang yang bisa menemukan kegembiraan walau dijatuhkan sedalam-dalamnya atau dibuang sejauh-jauhnya. Lalu Cak Nun melanjutkan dengan bertanya hal yang sangat fundamental kepada audien Kenduri Cinta pada malam itu, “Apakah ini kekurangan atau kelebihan?” Cak Nun dengan sangat cerdik dan bijak, meninggalkan pertanyaan tersebut di benak para pendengarnya tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
Semua orang boleh memiliki opininya masing-masing. Namun menjawab pertanyaan Cak Nun tersebut, saya akan menjawab bahwa hal itu adalah “kekurangan” bangsa Indonesia.
Tidak dapat dipungkiri, manusia pada umumnya mencari 1 hal dalam hidupnya di dunia ini, kepuasan. Dan manusia secara insting akan terus bergerak sampai ia menemukan kepuasannya tersebut. Dan dengan sifat rakyat Indonesia yang Cak Nun sebutkan, tanpa harus memeras keringat, menajamkan hati dan pikiran, atau yang lebih awam disebut “usaha”, rakyat Indonesia seolah tercipata untuk selalu puas, yang tentunya membawa kebahagiaan bagi diri mereka masing.
Namun, disamping anugrah yang khusus diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia akan kepuasan tanpa berusaha tersebut, kepuasaan rakyat Indonesia itu memiliki sebuah drawback yang signifikan, rakyat menjadi “statis“. Statis merupakan anonim dari dinamis, dan hal inilah yang membuat Indonesia “masih” dicap sebagai “The Third World” atau “Negara dunia ke-3″. Dan karena alasan inilah saya berpendapat bahwa kepuasan rakyat akan kondisi Indonesia saat ini merupakan suatu kekurangan, karena tidak sesuai dengan ide dan harapan saya sebagai rakyat akan nasib bangsa, yang saya ingin tidak dipandang rendah dipentas dunia dan dilepaskan dari cap “negara dunia ke-3″. Bisa disimpulkan bahwa menurut saya, intuisi rakyat Indonesia menggembirakan dirinya dalam segala kondisi adalah “Kekurangan bermantel Kelebihan”.
by: -Effendi-
Sampah!

Sad..
sampah masyarakat..
apa itu???
apa ada yang tak disebut sampah??
semua menyumpah
semua memaki
semua mendengki
semua merusak
semua mendendam
semua ya semua
mau besar kecil
atas bawah
depan belakang
semua tak ada beda
entah suci atau busuk
entah bersih atau kotor
jaminkah kalau bukan sampah???
pintar bodoh tak punya logika
kaya miskin tak punya hati
yang kaya tapi miskin
yang miskin tapi kaya
terbalik semua semua terbalik
jelas semua semua jelas
apa yang seharusnya terjadi
apa yang tak seharusnya terjadi
ketika mata ditutup
disitu mulut bicara
disaat mulut tertutup
mata melihat semua
apa yang direkayasa…
apa yang salah jadi benar
apa yang benar jadi salah…
itukah negeriku?
itukah negaraku?
by: -Yotsuba-
Indonesiaku…
Dulu rakyat indonesia berjuang melawan para penjajah yang ingin memiliki kekayaan Indonesia . Rakyat Indonesia berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan Indonesia . Walau hanya dengan bersenjatakan bambu runcing, tetapi para pahlawan , dengan bambu runcing dan juga dengan pikiran, berhasil merebut Indonesia kembali.
Kini 63 tahun sudah Indonesia merdeka. Tetapi apakah kita sudah benar-benar merdeka? Belum, kita masih belum merdeka, hanya beda nya dulu kita melawan penjajah dari negara lain, tapi kini kita berjuang melawan diri kita sendiri. Melawan korupsi,kemalasan, kebodohan, kemiskinan, dan kriminalitas. Kalau begini dengan senjata apakah kita dapat melawan itu semua? Mungkin hanya dengan kesadaran diri kita lah kita mampu akan mampu melawan semua itu. Kita tidak perlu menunggu sampai menjadi pemerintah untuk dapat membenahi negeri kita ini. Tetapi dari hal kecil yang kita lakukan dapat mengubah banyak hal! Maka marilah kita tingkatkan kesadaran untuk memajukan Indonesia .
Dengan banyak upaya setelah melewati banyak rintangan dan tantangan, akhirnya perjuangan bangsa indonesia terbayar juga dengan kemerdekaan yang selama ini didambakan. Dan kini 63 tahun sudah kita merdeka. Sekarang tugas kita sebagai generasi penerus adalah meneruskan perjuangan yang sudah dilakukan para pahlawan dan cita-cita para pahlawan kita agar dapat membangun indonesia kita yang tercinta ini untuk lebih maju. Untuk melakukan perubahan besar ini, kita dapat memulainya sekarang dari diri kita sendiri. Sebagai pelajar, kita bisa ikut andil dalam membangun negara kita ini dengan cara belajar dengan tekun. Sebagai Pegawai Negeri Sipil, kita bisa membangun negari ini dengan menjalankan segala tugas dan kewajiban dengan baik. Sebagai anggota masyarakat, kita bisa membangun negari kita ini dengan meningkatkan rasa persaudaraan, nasionalisme, menghilangkan kebiasaan membedakan SARA, tenggang rasa, dan toleransi antarumat beragama. Tiap hal-hal kecil positif yang kita lakukan pasti berguna bagi kita, orang lain dan negara kitasemua orang, dan bangsa ini, dan jangan pikirkan apa yang sudah di berikan negara kepada kita tapi pikirkanlah apa yang dapat kita perbuat bagi negara kita ini. Dengan semangat 100 tahun Kebangkitan Nasional yang menggelora ini, mari kita bersama-sama membangun Indonesia kita yang tercinta ini.
“Ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country”
-John. F. Kennedy-
article’s written by: -Yotsuba-
BEBAS!
“Bebas”
bebas ialah lepas
lepas akan akar masalah
lepas akan kemiskinan
lepas akan penderitaan
bebas ialah luas
luas akan berwawasan
luas akan jalan hidup
luas terbentang,
dengan langit sebagai batasnya
Namun,
kebebasan tak kunjung ku temukan
lepas?
luas?
yang kudengar hanya kebebasan saja
tanpa arti dan perbuatan
kosong,
bak sebuah kata tanpa arti
Kita menjadi saksi jaman,
akan hilang nya 1 kata,
Kata yang mengobarkan api dalam diri rakyat,
dulu,
Lama sudah waktu berlalu
Api dalam jiwa, padam…
hilang mimpi,
hilang harapan,
hilang tujuan,
hilang daya juang,
hilanglah kebebasan…
By: -Junior-
Negara bagaikan Pinang
Panjat pinang adalah salah satu lomba tradisional yang populer setiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia . Sebuah pohon pinang yang tinggi dan batangnya dilumuri oleh pelumas disiapkan oleh panitia perlombaan. Di bagian atas pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon. Oleh karena batang pohon tersebut licin (karena telah diberi pelumas), para pemanjat batang pohon sering kali jatuh.
Akal dan kerja sama para peserta untuk memanjat batang pohon inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang pohon, dan menjadi atraksi menarik bagi para penonton. “Licin”? Untuk dapat mencapai suatu cita-cita bangsa, memang bangsa kita dihadapkan kepada berbagai “kelicinan” yang menjadi momok disana-sini.
Saya seringkali memperhatikan kegiatan lomba panjat pinang ini, sesekali suasana kelucuan dalam lomba panjat pinang memang membuat yang hadir menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Mereka sangat bersemangat memanjat – dengan menginjak bahu bahkan kepala peserta lainnya agar dapat mencapai ketinggian walau akhirnya harus menyerah karena pembungkus biji pinangnya harus melorot ditarik (tanpa sengaja) oleh peserta lainnya yang berusaha untuk mendahului. Yang menang adalah tim yang bisa mempertahankan kebersamaan dan kekompakan mereka. Orang yang mementingkan dirinya sendiri akan selalu kalah, dan pada akhirnya hanya berhasil mengais tanah.
Dari paragrap cerita diatas, sebetulnya kita bisa menyadari bahwa perjuangan untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan hanya dapat diraih dengan kebersamaan, persatuan dengan tetap berpegang kepada norma-norma yang ada. Jangan saling mendahului, yang di bawah sebaiknya ikut mendorong yang tengah berada diatas, yang diatas hendaknya senantiasa mengingat jasa-jasa yang berada dibawah yang membuatnya berada diatas. Dari banyak kasus asusila para pelakon yang berada di kursi atas, rata-rata mereka akhirnya dipaksa untuk menyerah karena harga dirinya akhirnya harus terkuak. Ingat, dalam cerita diatas tentang seorang peserta yang akhirnya menyerah akibat ketahanan egonya yang “melorot”. Jadi apa yang harus kita pertahankan?
by: -Yotsuba-
63 INI…
Sudah lebih dari 60 tahun negara ini telah merdeka. Masa demi masa telah dilalui negara ini, bertahap dari masa transisi, masa pembangunan, hingga masa reformasi. Kesemuanya merupakan judul panjang dari negara ini demi satu tujuan yaitu bangsa yg besar.
Masa transisi merupakan babak pertama dari perjalanan panjang 63 Ini. Babak dimana kita mulai menyusun negara ini setelah masa penjajahan. Masa dimana semua pemuda masih memiliki semangat membara yaitu semangat 45 atau kemerdekaan. Semangat itu yg merupakan bukti perjuangan, dimana semangat itu lah yg akan membawa arah negara ini menuju masa pembangunan.
Masa pembangunan adalah masa dimana semua orang mulai melupakan semangat 45. Karena negara ini mulai tumbuh menjadi macan asia. Apa lagi dengan adanya pemberontakan PKI yang disebut g30spki, yang merupakan sinyalemen akan adanya perpecahan. Tetapi hasil dari kejadian itu adalah kunci baru bagi negara ini. Kunci akan masa pembangunan dari negara ini. Yang kemudian ditutup dengan babak terakhir negara ini yaitu reformasi.
Masa reformasi merupakan masa dimana semangat 45 memiliki kemasan baru. Karena pada masa ini para pemuda melakukan kudeta untuk menurunkan penguasa saat itu. Masa ini pula juga disebut sebagai masa kelam 53 dimana kita yang disebut macan asia sudah tidak bertaring dan sekarat. Karena korupsi yg merajarela. Seperti kata Bang Ali Sadikin,”
Kenapa Indonesia bisa begini, ini bukan karena ALLAH tetapi perbuatan kita manusia yg membuat negara ini rusak”. Maka tak salah jika karena korupsi negara ini hancur dan bukan karena nasib maka mulailah reformasi untuk mencapai demokrasi.
Babak demi babak negara ini telah berlalu sekarang negara ini sudah 63 tahun,tahun dimana reformasi sudah berjalan satu dekade masa dimana demokrasi mulai terbentuk, masa dimana negara ini mencoba bangkit, masa dimana persatuan mulai dipupuk. Maka 63 ini marilah kita sebut dengan judul Masa Kebangkitan karena 63 ini adalah dekade baru dari era reformasi, dimana pula ini merupakan masa pemuda maka marilah kita memberi judul 63 ini dengan prestasi bukan dengan omong kosong. Karena 63 ini adalah babak baru dari klimaks masalah negara ini.
by: -Yotsuba-


