Gerakan Pemuda Blog

Just another WordPress.com weblog

Terkurung di Masa Demokrasi

with 4 comments

Masa demokrasi, adalah masa dimana kita dapat menyuarakan pendapat kita.

Karena pada dasarnya demokrasi adalah sistem kenegaraan yang ” menuntut ” rakyat atau warga negara untuk menyuarakan pendapatnya dan melakukan pengawasan terhadap apa yang terjadi dan berlangsung di dalam negaranya. Demokrasi sendiri telah dianut oleh negara indonesia sejak tahun 1999. Karena itu sejak saat itu kita memiliki hak untuk menyuarakan pendapat.

Pendapat akan kekecewaanya terhadap pelayanan rumah sakit Omni international, yang diduga melakukan malpraktek terhadap dirinya. Malpraktek yang bermula dari hasil pemeriksaan rumah sakit Omni International yang menyebutkan Bahwa Ibu Prita mengalami demam berdarah karena Jumlah Trombosinya hanya 7000 atau rendah. Tetapi saat akan pindah rumah sakit ibu Prita mendapatkan laporan pemeriksaan yang berbeda yaitu, jumlah Trombositnya 16.500. Barang tentu ibu Prita merasa di bohongi dan kecewa. Dari kejadian itu Ibu Prita lalu mengirimkan email yang berisi kekecewaanya ke sebuah milis tertanggal 15 Agustus 2009. tanpa mengetahui apa yang akan menjadi malapetaka baginya.

Pada tanggal 13 mei 2009 ada kejadian heboh – heboh bagi keluarga Bapak Andi. Malapetaka itu menjemput Prita Mulyasari  istri Bapak Andi ini dijebloskan ke dalam Hotel Prodeo(penjara) oleh kejaksaan agung tangeerang. Alasanya karena pihak kejaksaan agung tanggerang mendapatkan gugatan perdata dari pihak Rumah Sakit Omni International karena nama baiknya merasa telah dicemarkan oleh Prita Mulyasari.Tempat dimana Ibu Prita menjalani perawatan karena diduga terserang demam berdarah.

Kejadian ini  Tentu saja menjadi mimpi buruk bagi ibu Prita Mulyasari. Ibu  dua anak ini harus kehilangan kebebasannya sejak tanggal 13 mei 2009, tak sampai itu saja ia juga harus merelakan kodratnya sebagai ibu. Sorang ibu yang seharusnya merawat dan memberikan asi. Asi kepada Putrinya yang bernama ananta yang baru berusia 1 tahun. Tak hanya itu Ibu Prita juga tidak dapat mencurahkan kasih sayangnya kepada putranya Ranaya ( 3 tahun ) yang sedang dalam masa pertumbuhan. Sungguh suatu hal yang sangat bertolak belakang pada masa demokrasi seperti sekarang  ini. Tak sampai di situ saja bagi kedua anaknya kejadian ini barang tentu menjadi sebuah pukulan telak yang akan mengakibatkan gangguan kejiwaan.  Dimana pada masa dini seperti itu mereka harus mendapati kenyataan pahit, kenyataan bahwa ibu mereka dipenjara karena menyuarakan pendapat. Dan kenyataan mereka harus menjalani hidup tanpa kasih sayang dari ibu mereka yang tetunya nilainya tak mungkin tergantikan.

Tetapi untunglah setelah mendekam selama tiga minggu di hotel Prodeo lapas tanggerang akhirnya Ibu Prita mendapatkan penagguhan penahan dari wkil Presiden Jusuf Kalla. Sungguh anugrah yang sangat besar bagi Ibu Prita dan keluarga Bapak Andi. Tetapi itu hanyalah hujan sementara.  karena setelah sidang pada tanggal 4 juni 2009 dan 13 Juni 2009  ibu Prita masih harus dihadapkan dengan kemungkinan Hukuman penjara 6 tahun atas kasus pencemaran nama baik dan denda perdata hampir senilai 260.000.000 rupiah kepad pihak Rumah sakit Omni International.

Sungguh sebuah ironi, dimana pada era Demokrasi, yang bebas berpendapat Ibu Peita harus rela hak asasinya diperkosa dan di injak – injak. Tak hanya itu ia juga harus menanggung beban yang sangat berat bagi seorang ibu hanya karena menyuarakan pendapatnya. Tak cukup disitu ia juga harus rela menjadi bahan promosi para caleg dan Capres yang berebut popularitas dan suara. Karena itu kita harus jeli – jeli karena Demokrasi ini bukan Demokrasi yang bebas menyuarakan pendapat.


by Red Team

Written by camo1620

Juni 7, 2009 at 7:34 pm

Wahai Odelia, Berhentilah Menangis

with 3 comments

sebuah respons untuk kasus Odelia Pinot by camo1620

48E3DD11-F4E2-4698-AC75-7EAE6A8A79A1Tentunya kita sudah mendengar berita mengenai Odelia Pinot baik dari TV maupun dari blog ini. Buat yg blom tau, untuk lebih lengkapnya silakan klik di sini. Singkatnya, Odelia Pinot, seorang model/artis Indonesia menikah dengan seorang pangeran dari negeri Jiran. Tak pentinglah dalam konteks artikel ini siapa dan dari kerajaan mana pangeran ini, tapi yang penting adalah Odelia disiksa selama masa pernikahannya dan berdasarkan cerita Odelia, saya (dan banyak orang lain juga) yang mendapat gambaran sang pangeran sebagai seorang psikopat. Hal terakhir yg saya tulis juga sebenernya tidak penting untuk artikel ini karena di artikel ini saya ingin menulis respons bukan secara langsung mengenai ke- psikopat – an sang pangeran ato penyiksaan yang dilakukan sang pangeran terhadap sang putri…eh, maksud saya sang Odelia(??). Yang saya ingin respons adalah attitude Odelia yang seolah menyalahkan semuanya ke pihak lain. Odelia menyalahkan sang pangeran karena telah menyiksanya. Odelia menyalahkan kerabat kerajaan menutup mata walau mereka tau apa yang sebenernya terjadi. Odelia menyalahkan Kedubes RI karena tidak membantu dirinya ketika ia meminta tolong kepada mereka. Semua itu ada benarnya. Namun, yang gw tidak suka dari karakter Odelia adalah dia tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri. Padahal, kesalahan terbesar ada pada Odelia!

Dari kecil kita sudah diajarkan, walau enggak semua orang benar2 belajar akan hal ini, bahwa kita harus bertanggung – jawab akan pilihan atau tindakan kita. Ketika seseorang itu tidak belajar, sudah sepantasnya dia tidak bisa mengerjakan ulangan keesokan harinya. Ketika seseorang lupa membantu temannya pada saat kesusahan, sudah sepantasnya orang itu tidak dibantu ketika ia sedang kesusahan. Pada kenyataannya untuk 2 kasus di atas, ketika seorang murid tidak belajar untuk ulangan keesokan harinya, sang murid masih saja mengeluh bahwa ia tidak dapat mengerjakan ulangan, atau ia mengeluh teman sebangkunya menulis jawabannya terlalu kecil sehingga ia susah membacanya(ia pengen nyontek). Ketika seseorang lupa membantu yang lain, ia masih saja mengeluh bahwa tak ada yang mau menolong dia ketika ia sedang kesusahan, ia bilang tak ada yang solider dengan dia. Inilah cara saya memandang kasus Odelia. Dia telah membuat keputusan untuk menikahi sang pangeran. Orang – orang terdidik (terdidik bukan cuma sebatas sekolah!) tentunya tau bahwa dari setiap pilihan ada konsekwensi, dan konsekwensi ini harus diterima!

Memilih suatu keputusan tanpa mau menerima konsekwensinya buat gw terdengar seperti anak kecil. Pada faktanya, anak kecil(pada umumnya), tidak memilih. Mereka tidak memilih karena mereka ingin segalanya, ‘semuanya’. Sedangkan seiring berjalannya waktu, mereka mulai belajar bahwa mereka tidak bisa mendapatkan semuanya, karena itulah hal ini disebut memilih. Memilih berarti tidak mendapatkankan ‘semuanya’! Ketika seseorang memilih satu hal, ia berarti tidak memilih yang lainnya dan yang lainnya ini adalah konsekwensi dari pilihannya. Sekarang, menanggapi kasus Odelia, kenapa ia bersikap seperti anak kecil?

Ada beberapa kemungkinan. Satu, Odelia terbiasa mendapatkan ‘semuanya’ sehingga ia tidak tau apa arti memilih. Hal ini mungkin saja terjadi kalau ia berasal dari keluarga kaya namun bodoh. Kaya akan harta, tapi miskin ilmu yang berakibat ia tidak pernah diajarkan apa – apa tentang hidup, kecuali uang karena memang hanya uang yang mereka punya. Ini hanya kemungkinan, berhubung saya tidak tahu pasti keadaan keluarga Odelia. Kedua, ia memilih tanpa tahu konsekwensinya. Hal ini acap kali terjadi. Banyak orang memilih namun yang dilihat hanyalah yang ada di depan mata mereka. Mereka tidak melihat jauh ke depan, yang terlihat hanyalah kilauan pesona dari pilihan mereka. Ini adalah hal bodoh dan superficial. Apalagi kasus Odelia ini tentang perkawinan, yang masih banyak orang menganggap sebagai sesuatu yang sakral dan satu hal paling penting dalam hidup. Tapi ini juga cuman kemungkinan. Tapi kalo disuruh nebak, gw pilih pilihan kedua.

Pesan buat mbak Odelia, berhenti nangis aja mbak! Jangan mewek2 lah minta perlindungan nebar – nebar kebodohan sendiri memilih suami yang salah. Bayangkan, bisa – bisanya ia menikahi seorang psikopat?? Gw bingung bagaimana hal ini bisa terjadi!! Apa kata dunia!! Jaman sekarang cewek ato cowok semuanya udah sama, enggak ada bedanya. Cewek itu enggak lebih rendah dari cowok, semuanya setara. Udah banyak buktinya kok, banyak cewek – cewek yang bahkan lebih hebat dari cowok, Hillary Clinton, Angela Merkel, etc. Udah bukan jamannya lagi cewek disiksa – siksa dalam rumah tangga. Udah bukan jamannya lagi cewek tergantung ama cowok. Udah bukan jamannya lagi orang dianggap aneh kalo blom menikah diumur 30-an ato bahkan enggak nikah ama sekali. Those are all bullsh*t!!!

Written by camo1620

Juni 7, 2009 at 5:26 pm

Berkaca dari Kasus Manohara

with 2 comments

Tak lepas dari ingatan kita beberapa minggu  yang lalu, tentang sebuah berita di infotaiment yang memberitakan seorang model cantik dari Indonesia yang juga keturunan Perancis yaitu Manohara Odelia Pinnot. Model cantik yang menjadi korban penyekapan dan penyiksaan yang dilakukan oleh ”Suami” – nya Tengku Fakhri yang merupakan pangeran Negara bagian Kelantan Malaysia . Saat itu banyak orang yang terkejut mendengar perlakuan – perlakuan sadis yang dilakukan Tengku Fakhri. Mulai dari kekerasan fisik seperti pemukulan dan menyayat dada ( payudara ) hingga memaksa melakukan hubungan intim saat sedang datang bulan/ menstruasi. Tak sampai itu saja  Manohara juga disiksa secara psikologis Mulai dari teror – teror hingga suntikan hormon untuk Menaikan berat badanya.

Pada saat yang sama pula muncul pedloi dari para kerabat dan utusan Negeri kelantan ( Malaysia ) yang menyebutkan bahwa Berita itu hanya bohong semata dan Pembohongan publik yang motifnya untuk mengeruk harta dari Kerajaan Kelantan . karena Ibu Daisy Yaitu Ibunda dari Manohara merasa tidak diperhatikan dan tidak mendapatkan uang dari Negeri Kelantan. Tak hanya Pledoi atau pembelaan – pembelaan lisan saja Para keranat dan utusan negeri klantan itu juga memberikan bukti berupa Foto dan keterangan gambar appartemen yang di berikan Tengku Fakhry kepada manohara sebagai tanda cintanya tak hanya itu para utusan itu juga berkata ” lihat manohara dia sekarang gendut dan bahagia. Tetapi pada saat Pledoi – pledoi ini muncul terasa sesuatu Yang janggal karena para kerabat dan utusan yang menyampaikan pledoi hanya berstatus sopir dan pembantu kerumah tanggaan negara kelantan.

Fakta yang ironi saat seorang mertua menyampaikan pertanyaan yang hanya ingin mengetahui keberadaan putrinya kepada menantunya ( Tengku fakhry ) harus menerima jawaban pahit  dari para pembantu dan sopir dari menantunya. Apakah itu sikap yang pantas ditunjukan seorang menantu . ini  juga  yang mengiindikasikan akan adanya sebuah fakta besar yang sedang di tutupi keberadaannya oleh pihak Kerajaan Kelantan.  Tak lepas dari pembelaaan dan argumen dari kedua pihak ini, yang mengeklaim pihaknya lah yang benar. Keduanya mencoba saling mematikan argumen dari pihak lawannya.

Hingga pada akhirnya Ibu Daisy melaporkan hal ini kepada Poltabes RI yang kemudian ditanggapi dengan jawaban ” kami akan berusahaa menangganinya” . Karena keputus-asaan itu pula maka Ibu Deasy meneruskan Laporanya kepada komisi1 DPR RI untuk membantu menjembatani masalah ini, tetapi sekali lagi karena alasan birokrasi dan kewenangan maka kasus ini hanya bergulir bagai uap yang ditiup angin kencang. Tak sampai di situ saja perjuanggan Ibu Deasy, ia juga mengadu pada pada Tokoh ulama PBNU Muhamadyah, bagaikan diberi mangga mentah Ibu Daisy mendapatkan jawaban yang sangat pahit ” itukan urusan suami istri kami tidak bisa mencampuri ”.

Tetapi setelah perjuanggan dan keputus-asaan yang lama akhirnya Manohara berhasil bebas dari cengkraman Tengku Fakhry setelah Disekap di Salah satu kamar Rumah sakit di Singapura.  Tetapi proses pembebasan itu tak semudah membalikan telapak tanggan  karena saat  berada di dalam sekapan Manohara telah meminta tolong kepada Kedubes RI untuk Singapura. Saat panggilan itu berhasil masuk masuk manohara berkata, ” help me, ini emergency , tolong saya warga negara Indonesia”. Tetapi jawaban menggelikan muncul dari Kedubes RI untuk singgapura yang menjawab “ maaf hari ini hari libur kami tidak bertugas”. Sungguh jawaban yang tentu meremukan asa Manohara, tetapi untungnya Manohara masih memiliki sedikit asa dan menghubunggi Kedubes Amerika serikat dan akhirnya dengan bantuan dubes Amerika Serikat akhirnya Manohara dapat dibebaskan.

Pada saat telah berhasil dibebaskan oleh orang Dari kedubes Amerika, Mulai terlihat orang – orang dari kedubes Indonesia sungguh benar – benar memalukan apakah Negara kita tak memiliki Kekuasaan membela warganya. Tak hanya Itu saat Manohara meminta bantuan kepada Kedubes RI untuk membuatkan Pasport untuk tinggal sementara di Indonesia Pihak Kedubes RI menjawab “ itu memekan waktu yang lama”. Tetapi sekali lagi kedubes Amerika menegur  kedubes RI dengan berkata “ bias saja Hari ini jadi malah Manohara nanti sore sudah bias kembali ke Indonesia “. Lalu bak kucing malu Kedubes Indonesia Membuatkan Pasport. Sungguh kisah yang sangat menegangkan menggingat Kasus ini melibatkan anak pangeran negeri Kelantan.

Dari kasus Manohara kita Dapat berkaca Betapa Rumitnya dan bobroknya birokrasi dan ketegasan para petinggi kita. Bahkan yang paling memalukan adalah kedubes Indonesia yang tak berani membela warganya di luar negeri, entah karena Takut akan Kekuasaan atau telah di bungkam dengan jejalan uang suap. Jika seperti itu apakah kita akan percaya akan hak kita yang akan terlindungi di negara lain. Dan pantas saja banyak pahlawan devisa kita Yang tewas dan mengalami cacat permanen yang tak mendapat pembelaan sama sekali dan terus menerus berulang. Jika berkaca dari kasus manohara itulah alasannya birokrasi dan Dubes yang payah dan haus akan suap.

Manohara-Pinot(dok.keluarga)-dalamOdelia Pinot sebelum Menikah

DSC04463bersama sang suami

by Red Team

Written by camo1620

Juni 7, 2009 at 5:19 pm

Perjuangan Nelayan Pantai Samas Mengkonservasi Penyu

with 5 comments

Samas merupakan sebuah pantai yang terletak di kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Pantai ini memiliki pasir berwarna hitam karena masih menjadi bagian dari pantai parangtritis. Pantai Samas berjarak kurang lebih 30 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Pemandangan dari pantai samas sendiri kurang menarik — yakni pemandangan pantai yang sangat datar dan pantai yang sempit dan curam. Pantai Samas sendiri merupakan pantai penghasil ikan mengingat ada sebuah TPI, Tempat Pelelangan Ikan. Tetapi daya tarik terbesar dari pantai samas bukan pemandangan pantainya atau pasar ikannya, melainkan tempat pendaratan dan bertelurnya penyu. Penyu yang bertelur di Samas adalah penyu hijau, penyu sisik, dan penyu belimbing — dimana kesemuanya merupakan binatang yang terancam punah.

Tetapi ada fakta yang mencengangkan yaitu konservasi penyu belum pernah ada di pantai Samas— oleh pemerintah maupun perorangan — mengingat intensnya kegiatan bertelurnya penyu di pantai samas sepanjang musim januari hingga april, sangat disayangkan jika tidak ada pihak yang melakukan konservasi.

Tahun 2000 merupakan sebuah awal baru bagi keberadaan penyu di pantai Samas. Seorang nelayan mencoba menyelamatkan penyu, dengan cara konservasi memindahkan telur penyu yang berada pada jalur ombak. Pak mujito, pria berusia 49, pada tahun tersebut dengan swadaya sendiri mencoba melakukan konservasi penyu – penyu yang berlabuh di Samas. Pada kami Pak Mujito menuturkan bahwa awalnya dia juga memburu penyu untuk dijadikan umpan memancing hiu. ” penyu itu di cincang dijadikan umpan, hiu juga dapet, cepet lagi ! ” Pak Mujito menuturkan dengan gamblang. Tetapi lama kelamaan setelah mengetahui bahwa penyu binatang langka dan rasa penasarannya yang besar akan penyu. Pada tahun 2000 Pak Mujito mencoba melakukan konservasi pada penyu– baik penyu sisik, penyu belimbing, dan penyu hijau. Pada awalnya beliau menuturkan,” dulu ngak ada modalnya, jadi saya mikir alternatifnya, kebetulan ada yang lagi bikin sumur ya sudah bis beton untuk lubang sumur saya curi buat tempat penetasan telur. “Ya memang salah tapikan ini juga kepentingan bersama”, tegas Pak Mujito. Mulai dari saat itu Pak Mujito mulai melakukan konservasi secara bertahap, mulai dengan tempat penetasan, lalu membangun kolam pembesaran, dan pada akhirnya kini ada kolam perawatan. Tetapi yang terpenting adalah Pak Mujito mulai mampu membangun kesadaran masyarakat sekitarnya agar tidak memburu penyu. Karena prestasi itulah juga Pak Mujito mendapakan banyak piagam, medali, dan juga penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Penghargaan – penghargaan yang terus di dapatkan Pak Mujito menunjukan betapa besar jasa yang telah di perbuatnya. Namun masalah timbul ketika penghargaan itu hanya sebatas pada piagam maupun medali. Padahal yang sangat di butuhkan untuk melakukan konservasi adalah tunjangan dana yang angkanya tidak lah besar dibanding dengan dampak yang diberikan. Pada saat kami  mengunjungi tempat pemeliharaan tukik ( anak penyu ), kami melihat ada 3 ekor tukik. Sayang sekali hanya 1 ekor saja yang masih hidup– itupun dalam kondisi yang sangat lemah. Menurut Pak Mujito, ” ya bagaimana mas, mbak, mestinya air kolam harus di ganti setiap hari tetapi selang untuk mengalirkan air rusak. Harganya juga mahal sekali. Gini saya inikan swadaya jadi untuk membeli selang sepanjang itu juga berat”. Sungguh ucapan yang sangat menyayat hati. Banyaknya penghargaan, piagam dan medali tetap saja tidak menggugah pemerintah untuk turut membantu dalam melakukan konservasi. Padahal jika pemerintah ikut serta bisa dibayangkan pasti tingkat konservasi yang di sumbangkan Indonesia pasti akan lebih tinggi dan tentu hal itu juga akan menaikan citra negara kita. Bukan sebatas itu jika digarap dengan baik tentu saja akan menjadi tujuan wisata dan tempat penelitian menggingat ada 3 jenis penyu yang bertelur di Samas. Tak hanya itu devisa pun juga akan didapatkan dari kunjungan wisata.

Tetapi itulah Pak Mujito yang terus berusaha semampunya demi membuat perubahan besar dengan keterbatasan dan kekurangan tetap tegar melakukan konservasi hingga sekarang, sebuah sifat yang sangat patriotis, untuk dunia beliau berjuang dari daerah terpencil tetapi kelak dampaknya akan menggubah dunia. Sifat yang tidak dimiliki generasi muda sekarang ini.

clip_image002

Gambar salah satu penyu yang dirawat Pak Mujito

karena terkena kail pancing nelayan

clip_image003

Gambar salah satu penyu hasil sitaan dari PPS

clip_image004

Pak Mujito  bersama penyu  yang sedang dalam perawatan

clip_image002

Gambar salah satu tukik yang dalam kondisi lemah

clip_image003

Pak Mujito menunjukan pigam yang telah diperolehnya

Written by camo1620

Mei 25, 2009 at 6:28 pm

Kumpulan Istilah Pemilu

leave a comment »

legislatif: barang dagangan para partai politik

pemilu : acara lelang kekuasaan

caleg : pembeli tertinggi pada no urut partai

simpatisan: pemeriah suasana saat kampanye

kpu : panitia pemilu yang juga calo lelang kekuasaan

bawaslu: panitia yang menjadi pelengkap acara lelang kekuasaan

parpol: member card lelang kekuasaan biasanya surcase 20% atau 200 jt hingga milyaran tergantung yg silver prioritie , gold prioritie, dan platinum prioritie

money politic: pembodohan masyarakat

kader: yang beli membercard

capres: lelang utama

cawapres:lelang pelengkap

langsung: cepat sehingga jika ada kesalahan tidak sempat diketahui

jujur: jual beli kursi jabatan itu mahal

adil: dana kampanye balik 1000000%

damai: asal bagi -bagi kekuasaan dan jabatan

golput: pendongkrak harga semakin besar golput maka suara yang digelembungkan juga besar

tim sukses: sales – sales tukang tipu

kampanye: yang penting berisik dan tujuan harus tidak jelas

janji politik: kata – kata manis dan membuai biasanya janji politik yang paling bagus adalah ya tidak usah ditepati

pemilih :orang ya bisa di tipu mentah – mentah

demokrasi: palsu

contreng: tanda yang lebih mudah di manipulasi daripada di coblos

TPS: Tempat nongkrong para tim sukses yang suka money politic

surat suara: properti sinetron jd supaya lelang meriah di beri hiburan yaitu sarana mencontreng

rekapitulasi: tawar -tawaran harga (kayak di pasar )

DPD: barang mewah

DPRD: barang mewah sekali

DPR: barang sangat amat mewah

MPR: barang super mewah

politikus : jenis tikus pemangsa uang negara yang bermuka 2 manis di depan ganas di belakang (tapi sekarang depan belakang cenderung ganas )

Written by camo1620

April 26, 2009 at 7:47 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

They are useless!! Siapakah mereka?

leave a comment »

Pemilu 2009 Pada 9 april yang lalu kita telah menunaikan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia. Kewajiban tersebut adalah kita memberikan suara dalam pemilihan umum legislatif– baik pemilihan DPD, DPR, dan DPRD yang kesemuanya menganut sistem dan tata cara baru. Baru karena baru pertama kali dalam sejarah Indonesia kita dapat memilih nama caleg ( calon legislatif ) menurut daerah pemilhanya. Sistem ini sangat demokratis karena kita benar – benar memilih secara langsung wakil yang kita tunjuk– berbeda dengan pemilu sebelumnya yg hanya memilih partai, tanpa kita tahu wakil kita.

Sistem pemilihan yang sangat demokratis ( karena memilih nama caleg secara langsung ) membuat sebagian dari kita tentu merasa lega. Lega karena setidaknya kita memiliki gambaran kasar ( penafsiran ) tentang tingkah laku yang dimiliki para caleg yang kita pilih. Karena kita dapat mengetahui track record atau catatan perjalanan yang berupa prestasi maupun kegagalannya. Karena pemenang pemilu leglisatif kita yang menentukan. Berbeda dengan pemilu sistem lama dimana pengurus partai yang menentukan kader mana yang akan di calonkan, sehingga kita seperti di suguhi beberapa karung yang diladamnya terdapat kucing yang notabene melebihi pepatah ” memilih kucing dalam karung “. Karena kita memilih partai yang kemudian partai yang menentukan calonnya sehingga kita memilih tidak secara langsung. Dimana sistem tersebut sarat dengan pembelian jabatan.

memilih secara langsung sudah dapat kita lakukan pada pemilu 9 april yang lalu. Tetapi ada satu masalah yang mencedrai bahkan merupakan bentuk pelanggaran hak yang fatal. Fatal karena seseorang disebut sebagai warga negara yang baik jika menunaikan kewajibannya–yaitu turut serta dalam pemilu dengan cara memberikan hak pilihnya. Tetapi karena masalah administrasi hampir 40% pemilih tidak tercatat dalam daftar pemilih tetap ( DPT ), dan dipaksa untuk menjadi golput — tidak dapat melakukan atau memberikan hak pilih sebagai kewajiban warga negara Indonesia. sungguh fatal karena di masa komunikasi dan infrastruktur modern masih ada masalah administrasi yang berujung pada pelangaran hak yang sedemikian parahnya. Parah karena hampir setengah warga negara tidak memberikan hak pilìhnya, sebagai gambaran sebuah partai dapat menggusung calon presiden jika memperoleh 25% suara pada pemilu leglislatif dan dibandingkan dengan angka golput maka asumsinya golput sudah dapat memenangkan pemilu pemilihan presiden tanpa melalui pemilihan leglislatif.

Pencedraan teraparah dan paling memalukan lagi adalah saling lempar tanggung jawab. tanggumg jawab mempersiapkan pemilu yang diemban oleh Komisi Pemilihan Umum(KPU ) gagal di laksanakan dengan dalih “pemilih mungkin terdaftar pada tempat tinggalnya yang lama sehinga dapat mengecek kesana “. Apa seperti itu tanggung jawab lembaga pemilu yang memilik slogan ” sukseskan pemilu ” (nilai golput yang rendah ). Malah lebih cenderung tutup mata dan membiarkan hal sebesar itu– pemilu yang menyangkut masa depan bangsa, lewat dan tanpa pertanggung jawaban.

Lebih mencengangkan lagi BAWASLU( Badan Pengawas Pemilu ), yang betugas mencatat dan melaporkan pelanggaran yang terjadi saat pemilu pun cenderung buang muka dan tak menghiraukan pelanggaran demi pelanggaran yang terjadi. Padahal APBN yang digunakan untuk biaya pengadaan BAWASLU cukup besar, lalu apakah sepadan dengan kinerja BAWASLU. Hal ini seperti menunjukan keangkuhan lembaga ini bahwa ” kami dibayar tanpa bekerja tetap bisa dan tidak mungkin tersentuh hukum “. Benar – benar ironis melihat kebobrokan penyelengaraan dan pengawasan pemilu. Dan di tambah lagi keputusan polisi yang tidak mau mengusut kasus – kasus tersebut dengan alasan tidak cukup waktu — karena penindakan pelanggaran pemilu harus selesai sebelum rekapitulasi ( penghitungan perolehan suara ).

apakah pemilu negara kita sah dan dapat diterima nalar dan logika. Menggingat lemahnya mental para penyelengara, pengawas, dan penindak dalam pemilu. Apakah sah jika suara yang hilang hampir setengah jumlah pemilih yang di karenakan kesalahan lembaga penyelenggara pemilu. Apakah sah hasil yang ada sekarang karena bisa jadi adanya manipulasi karena fungsi pengawasan dan penindakan tidak berjalan. Sah atau tidaknya hasil pemilu kali ini adalah presepsi dan hak anda karena sah atau tidaknya sangat berbeda bagi setiap orang, apapun hasilnya semoga saja dapat memberikan kemajuan bagi bangsa ini.

Written by camo1620

April 24, 2009 at 4:58 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

Bakri, Bakri, Kasian Banget Loe Jadi Orang…Gawat

with 5 comments

Begitulah penggalan omongan Iwan Fals dalam salah satu lagu tenarnya ,Oemar Bakri. Tapi sekarang Bakri nya itu bukan seorang guru yang naik sepeda kumbang, atau guru yang gajinya dikebiri, melainkan Zaenal Bakri, seorang caleg dari Partai Kedaulatan DPD Jatim.

Zaenal Bakri, seperti yang diberitakan di liputan6.com, menyerang kantor partai Kedaulatan karena ia tidak terima namanya yang dulunya ditetapkan pada urutan pertama caleg diturunkan menjadi urutan kedua. Pada hari Rabu, September 17, ia bersama simpatisannya akhirnya menyerang kantor Partai Kedaulatan dan mengobrak-abrik kantor tersebut serta pengrusakan atribut-atribut partai tersebut.

Berikut beberapa opini gw tentang tindakan pak Bakri:

  1. Goblok

Ia goblok soalnya tidak tahu kalau tindakan kekerasan dia sendiri yang akan menenggelamkan harapannya untuk jadi caleg. Ditambah lagi sewaktu ia melakukan tindakan tersebut, jelas-jelas ada wartawan. Kalau rakyat sudah melihat ulah calegnya seperti ini, yang main kekerasan, siapa yang mau memilih dia? Lagian, yang namanya caleg itu senjata utamanya adalah ’kata-kata’, bukan tangan. Sudah 2008 tahun semenjak kelahiran Nabi Isa, masih ada saja orang primitif macam Zaenal Bakri.

  1. Anarkis

Hukum mana yang memperbolehkan pengrusakan? Karena itu, tindakan Zaenal Bakri bisa dibilang anarkis, berbuat semaunya seolah hukum itu tidak ada. Bisa dibilang ia melecehkan hukum Indonesia. Padahal ia mau jadi anggota Legislatif. Kalau anggota legislatifnya aja enggak mau ngikutin hukum dan memberi teladan, rakyat nya gimana? Memang tidak bisa dipungkiri hukum Indonesia lemah baik secara penegakan maupun secara struktural dan pengorganisasiannya. Tapi bukan berarti kita bisa seenaknya aja melakukan apapun yang kita mau, karena hukum itu letaknya tertinggi dalam suatu negara. Masak yang palng tinggi aja di injek-injek, apa kata dunia??

  1. Tidak Beretika

Immanuel Kant(kalo enggak salah) pernah berkata kalau kita mau tahu apakah tindakan kita itu beretika atau tidak, bayangkan bila semua orang melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan. Nah, sekarang kita bayangkan kalau semua orang di Indonesia, atau yang lebih spesifik semua caleg melakukan hal yang sama seperti yang Zaenal Bakri lakukan. Ancur lebur dah tuh negara.

Sekarang saya akan ajukan pertanyaan kepada rakyat Indonesia, terutama saudara-saudara di daerah Jawa Timur, ”Apakah kalian mau diwakili oleh orang yang goblok, anarkis, dan tidak beretika macam Zaenal Bakri?” Kalau kalian menikmati adu-jotos yang beberapa kali pernah terjadi di gedung DPR/MPR, maka Zaenal Bakri adalah calon yang patut diperhitungkan.

Written by camo1620

September 20, 2008 at 5:35 am

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.