Gerakan Pemuda Blog

Just another WordPress.com weblog

Negara bagaikan Pinang

with 2 comments

Panjat Pinang

Panjat Pinang

Panjat pinang adalah salah satu lomba tradisional yang populer setiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia . Sebuah pohon pinang yang tinggi dan batangnya dilumuri oleh pelumas disiapkan oleh panitia perlombaan. Di bagian atas pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon. Oleh karena batang pohon tersebut licin (karena telah diberi pelumas), para pemanjat batang pohon sering kali jatuh.

Akal dan kerja sama para peserta untuk memanjat batang pohon inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang pohon, dan menjadi atraksi menarik bagi para penonton. “Licin”? Untuk dapat mencapai suatu cita-cita bangsa, memang bangsa kita dihadapkan kepada berbagai “kelicinan” yang menjadi momok disana-sini.

Saya seringkali memperhatikan kegiatan lomba panjat pinang ini, sesekali suasana kelucuan dalam lomba panjat pinang memang membuat yang hadir menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Mereka sangat bersemangat memanjat – dengan menginjak bahu bahkan kepala peserta lainnya agar dapat mencapai ketinggian walau akhirnya harus menyerah karena pembungkus biji pinangnya harus melorot ditarik (tanpa sengaja) oleh peserta lainnya yang berusaha untuk mendahului. Yang menang adalah tim yang bisa mempertahankan kebersamaan dan kekompakan mereka. Orang yang mementingkan dirinya sendiri akan selalu kalah, dan pada akhirnya hanya berhasil mengais tanah.

Dari paragrap cerita diatas, sebetulnya kita bisa menyadari bahwa perjuangan untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan hanya dapat diraih dengan kebersamaan, persatuan dengan tetap berpegang kepada norma-norma yang ada. Jangan saling mendahului, yang di bawah sebaiknya ikut mendorong yang tengah berada diatas, yang diatas hendaknya senantiasa mengingat jasa-jasa yang berada dibawah yang membuatnya berada diatas. Dari banyak kasus asusila para pelakon yang berada di kursi atas, rata-rata mereka akhirnya dipaksa untuk menyerah karena harga dirinya akhirnya harus terkuak. Ingat, dalam cerita diatas tentang seorang peserta yang akhirnya menyerah akibat ketahanan egonya yang “melorot”. Jadi apa yang harus kita pertahankan?

by: -Yotsuba-

Iklan

Written by camo1620

Agustus 17, 2008 pada 10:09 pm

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. tak ada lagi panjat pinang di tempat kami saat ini yg ada hanya pesta hura-hura, sedang aku hanya berdiam diri.

    Hendrawan

    Agustus 19, 2008 at 6:57 am

  2. yaaa daerah loe mana kalo tempat gua juga ada2 aja hahahaha, lg pula knapa ya pemuda sekarang kok cuman bisa hura2

    thomas

    Agustus 26, 2008 at 1:20 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: