Gerakan Pemuda Blog

Just another WordPress.com weblog

They are useless!! Siapakah mereka?

leave a comment »

Pemilu 2009 Pada 9 april yang lalu kita telah menunaikan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia. Kewajiban tersebut adalah kita memberikan suara dalam pemilihan umum legislatif– baik pemilihan DPD, DPR, dan DPRD yang kesemuanya menganut sistem dan tata cara baru. Baru karena baru pertama kali dalam sejarah Indonesia kita dapat memilih nama caleg ( calon legislatif ) menurut daerah pemilhanya. Sistem ini sangat demokratis karena kita benar – benar memilih secara langsung wakil yang kita tunjuk– berbeda dengan pemilu sebelumnya yg hanya memilih partai, tanpa kita tahu wakil kita.

Sistem pemilihan yang sangat demokratis ( karena memilih nama caleg secara langsung ) membuat sebagian dari kita tentu merasa lega. Lega karena setidaknya kita memiliki gambaran kasar ( penafsiran ) tentang tingkah laku yang dimiliki para caleg yang kita pilih. Karena kita dapat mengetahui track record atau catatan perjalanan yang berupa prestasi maupun kegagalannya. Karena pemenang pemilu leglisatif kita yang menentukan. Berbeda dengan pemilu sistem lama dimana pengurus partai yang menentukan kader mana yang akan di calonkan, sehingga kita seperti di suguhi beberapa karung yang diladamnya terdapat kucing yang notabene melebihi pepatah ” memilih kucing dalam karung “. Karena kita memilih partai yang kemudian partai yang menentukan calonnya sehingga kita memilih tidak secara langsung. Dimana sistem tersebut sarat dengan pembelian jabatan.

memilih secara langsung sudah dapat kita lakukan pada pemilu 9 april yang lalu. Tetapi ada satu masalah yang mencedrai bahkan merupakan bentuk pelanggaran hak yang fatal. Fatal karena seseorang disebut sebagai warga negara yang baik jika menunaikan kewajibannya–yaitu turut serta dalam pemilu dengan cara memberikan hak pilihnya. Tetapi karena masalah administrasi hampir 40% pemilih tidak tercatat dalam daftar pemilih tetap ( DPT ), dan dipaksa untuk menjadi golput — tidak dapat melakukan atau memberikan hak pilih sebagai kewajiban warga negara Indonesia. sungguh fatal karena di masa komunikasi dan infrastruktur modern masih ada masalah administrasi yang berujung pada pelangaran hak yang sedemikian parahnya. Parah karena hampir setengah warga negara tidak memberikan hak pilìhnya, sebagai gambaran sebuah partai dapat menggusung calon presiden jika memperoleh 25% suara pada pemilu leglislatif dan dibandingkan dengan angka golput maka asumsinya golput sudah dapat memenangkan pemilu pemilihan presiden tanpa melalui pemilihan leglislatif.

Pencedraan teraparah dan paling memalukan lagi adalah saling lempar tanggung jawab. tanggumg jawab mempersiapkan pemilu yang diemban oleh Komisi Pemilihan Umum(KPU ) gagal di laksanakan dengan dalih “pemilih mungkin terdaftar pada tempat tinggalnya yang lama sehinga dapat mengecek kesana “. Apa seperti itu tanggung jawab lembaga pemilu yang memilik slogan ” sukseskan pemilu ” (nilai golput yang rendah ). Malah lebih cenderung tutup mata dan membiarkan hal sebesar itu– pemilu yang menyangkut masa depan bangsa, lewat dan tanpa pertanggung jawaban.

Lebih mencengangkan lagi BAWASLU( Badan Pengawas Pemilu ), yang betugas mencatat dan melaporkan pelanggaran yang terjadi saat pemilu pun cenderung buang muka dan tak menghiraukan pelanggaran demi pelanggaran yang terjadi. Padahal APBN yang digunakan untuk biaya pengadaan BAWASLU cukup besar, lalu apakah sepadan dengan kinerja BAWASLU. Hal ini seperti menunjukan keangkuhan lembaga ini bahwa ” kami dibayar tanpa bekerja tetap bisa dan tidak mungkin tersentuh hukum “. Benar – benar ironis melihat kebobrokan penyelengaraan dan pengawasan pemilu. Dan di tambah lagi keputusan polisi yang tidak mau mengusut kasus – kasus tersebut dengan alasan tidak cukup waktu — karena penindakan pelanggaran pemilu harus selesai sebelum rekapitulasi ( penghitungan perolehan suara ).

apakah pemilu negara kita sah dan dapat diterima nalar dan logika. Menggingat lemahnya mental para penyelengara, pengawas, dan penindak dalam pemilu. Apakah sah jika suara yang hilang hampir setengah jumlah pemilih yang di karenakan kesalahan lembaga penyelenggara pemilu. Apakah sah hasil yang ada sekarang karena bisa jadi adanya manipulasi karena fungsi pengawasan dan penindakan tidak berjalan. Sah atau tidaknya hasil pemilu kali ini adalah presepsi dan hak anda karena sah atau tidaknya sangat berbeda bagi setiap orang, apapun hasilnya semoga saja dapat memberikan kemajuan bagi bangsa ini.

Iklan

Written by camo1620

April 24, 2009 pada 4:58 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: