Gerakan Pemuda Blog

Just another WordPress.com weblog

Wahai Odelia, Berhentilah Menangis

with 3 comments

sebuah respons untuk kasus Odelia Pinot by camo1620

48E3DD11-F4E2-4698-AC75-7EAE6A8A79A1Tentunya kita sudah mendengar berita mengenai Odelia Pinot baik dari TV maupun dari blog ini. Buat yg blom tau, untuk lebih lengkapnya silakan klik di sini. Singkatnya, Odelia Pinot, seorang model/artis Indonesia menikah dengan seorang pangeran dari negeri Jiran. Tak pentinglah dalam konteks artikel ini siapa dan dari kerajaan mana pangeran ini, tapi yang penting adalah Odelia disiksa selama masa pernikahannya dan berdasarkan cerita Odelia, saya (dan banyak orang lain juga) yang mendapat gambaran sang pangeran sebagai seorang psikopat. Hal terakhir yg saya tulis juga sebenernya tidak penting untuk artikel ini karena di artikel ini saya ingin menulis respons bukan secara langsung mengenai ke- psikopat – an sang pangeran ato penyiksaan yang dilakukan sang pangeran terhadap sang putri…eh, maksud saya sang Odelia(??). Yang saya ingin respons adalah attitude Odelia yang seolah menyalahkan semuanya ke pihak lain. Odelia menyalahkan sang pangeran karena telah menyiksanya. Odelia menyalahkan kerabat kerajaan menutup mata walau mereka tau apa yang sebenernya terjadi. Odelia menyalahkan Kedubes RI karena tidak membantu dirinya ketika ia meminta tolong kepada mereka. Semua itu ada benarnya. Namun, yang gw tidak suka dari karakter Odelia adalah dia tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri. Padahal, kesalahan terbesar ada pada Odelia!

Dari kecil kita sudah diajarkan, walau enggak semua orang benar2 belajar akan hal ini, bahwa kita harus bertanggung – jawab akan pilihan atau tindakan kita. Ketika seseorang itu tidak belajar, sudah sepantasnya dia tidak bisa mengerjakan ulangan keesokan harinya. Ketika seseorang lupa membantu temannya pada saat kesusahan, sudah sepantasnya orang itu tidak dibantu ketika ia sedang kesusahan. Pada kenyataannya untuk 2 kasus di atas, ketika seorang murid tidak belajar untuk ulangan keesokan harinya, sang murid masih saja mengeluh bahwa ia tidak dapat mengerjakan ulangan, atau ia mengeluh teman sebangkunya menulis jawabannya terlalu kecil sehingga ia susah membacanya(ia pengen nyontek). Ketika seseorang lupa membantu yang lain, ia masih saja mengeluh bahwa tak ada yang mau menolong dia ketika ia sedang kesusahan, ia bilang tak ada yang solider dengan dia. Inilah cara saya memandang kasus Odelia. Dia telah membuat keputusan untuk menikahi sang pangeran. Orang – orang terdidik (terdidik bukan cuma sebatas sekolah!) tentunya tau bahwa dari setiap pilihan ada konsekwensi, dan konsekwensi ini harus diterima!

Memilih suatu keputusan tanpa mau menerima konsekwensinya buat gw terdengar seperti anak kecil. Pada faktanya, anak kecil(pada umumnya), tidak memilih. Mereka tidak memilih karena mereka ingin segalanya, ‘semuanya’. Sedangkan seiring berjalannya waktu, mereka mulai belajar bahwa mereka tidak bisa mendapatkan semuanya, karena itulah hal ini disebut memilih. Memilih berarti tidak mendapatkankan ‘semuanya’! Ketika seseorang memilih satu hal, ia berarti tidak memilih yang lainnya dan yang lainnya ini adalah konsekwensi dari pilihannya. Sekarang, menanggapi kasus Odelia, kenapa ia bersikap seperti anak kecil?

Ada beberapa kemungkinan. Satu, Odelia terbiasa mendapatkan ‘semuanya’ sehingga ia tidak tau apa arti memilih. Hal ini mungkin saja terjadi kalau ia berasal dari keluarga kaya namun bodoh. Kaya akan harta, tapi miskin ilmu yang berakibat ia tidak pernah diajarkan apa – apa tentang hidup, kecuali uang karena memang hanya uang yang mereka punya. Ini hanya kemungkinan, berhubung saya tidak tahu pasti keadaan keluarga Odelia. Kedua, ia memilih tanpa tahu konsekwensinya. Hal ini acap kali terjadi. Banyak orang memilih namun yang dilihat hanyalah yang ada di depan mata mereka. Mereka tidak melihat jauh ke depan, yang terlihat hanyalah kilauan pesona dari pilihan mereka. Ini adalah hal bodoh dan superficial. Apalagi kasus Odelia ini tentang perkawinan, yang masih banyak orang menganggap sebagai sesuatu yang sakral dan satu hal paling penting dalam hidup. Tapi ini juga cuman kemungkinan. Tapi kalo disuruh nebak, gw pilih pilihan kedua.

Pesan buat mbak Odelia, berhenti nangis aja mbak! Jangan mewek2 lah minta perlindungan nebar – nebar kebodohan sendiri memilih suami yang salah. Bayangkan, bisa – bisanya ia menikahi seorang psikopat?? Gw bingung bagaimana hal ini bisa terjadi!! Apa kata dunia!! Jaman sekarang cewek ato cowok semuanya udah sama, enggak ada bedanya. Cewek itu enggak lebih rendah dari cowok, semuanya setara. Udah banyak buktinya kok, banyak cewek – cewek yang bahkan lebih hebat dari cowok, Hillary Clinton, Angela Merkel, etc. Udah bukan jamannya lagi cewek disiksa – siksa dalam rumah tangga. Udah bukan jamannya lagi cewek tergantung ama cowok. Udah bukan jamannya lagi orang dianggap aneh kalo blom menikah diumur 30-an ato bahkan enggak nikah ama sekali. Those are all bullsh*t!!!

Iklan

Written by camo1620

Juni 7, 2009 pada 5:26 pm

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ah…….. cari sensasi aja kali. sebenarnya mungkin malah salah ibunya odel tuh. anak bau kencur udah di jual buat status ama harta begitu gak dapet bagian ngarang deh di siksa di ini itu, buktinya visum juga gak mau. akal – akalan aja kali.

    misama

    Juni 8, 2009 at 12:48 pm

  2. hmmm..bukannya katanya dia menikah karena di paksa dgn di ancam hukum penggal ya…jd bukan sebnr nya dia juga ga mau menikah sama pangeran dr malingsial itu..

    aya

    Juni 18, 2009 at 5:45 pm

    • OH YA??? WAAAAA…klo loe bener, brarti argumen gw gak relevan nih…tp bentar deh, gw tanya yg buat artikel Odelianya dulu. Thanks ya uda ngasih tau, uda baca, ama uda ngasih komen.

      camo1620

      Juni 18, 2009 at 6:21 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: